Kronologi Pengusiran Paksa Buruh Harian Lepas di PTPN V Sei Rokan Riau

UjungBatuRokan – Dihari Kamis 22 Agustus 2019 pukul 10.00 WIB, persis 5 hari setelah perayaan Kemerdekaan RI yg ke – 74 tahun, telah terjadi tindakan refresif yg dilakukan oleh pihak manajemen Perusahaan PTPN V Sei Rokan Riau terhadap para Buruh Harian Lepas ( BHL), melalui aparat keamanan (Polisi & TNI), Satpam, beserta Askep (Asisten Kepala) -Asum (Asisten Umum) dan seluruh jajarannya. Melakukan tindakan pengusiran dan pengosongan rumah dengan paksa. Tanpa ada konfirmasi yg jelas. Adapun alasan pengusiran tersebut bermula pada keterlibatan para Buruh dalam sebuah organisasi serikat buruh, Yakni Federasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FSBSI). Yang dipimpin oleh Bapak SF. Sitanggang selaku ketua DPC Kabupaten Rokan Hulu – Riau.

Melalui tindakan refresif dan pengintimidasian terhadap buruh tersebut, mengakibatkan para buruh tidak memiliki tempat tinggal, dan menjadi trauma. Sehingga mereka saat ini tinggal dan berteduh di tenda seadaanya dipinggir jalan, yg jauh dari layak sebagai tempat tinggal manusia. Adapun korban dari tindakan refresif tersebut rata-rata para buruh yg masih produktif dan masih memiliki tanggung jawab kebutuhan hidup terhadap isteri dan anak-anaknya. Baik itu kebutuhan untuk makan, juga kebutuhan untuk biaya sekolah anak-anak.

Dalam tempat terpisah juga, para buruh dilakukan hal yg sama diluar perikemanusiaan. Salah satu buruh atas nama Feriyanto mengatakan pada saat itu akan dilakukan Wirid (Berdoa) dirumahnya. Beliau sebagai salah satu buruh yang terdampak meminta tolong agar tidak dilakukan pengosongan rumah tersebut, untuk satu malam saja, agar bisa melakukan kegiatan Wirid. Namun, tindakan refresif dari pihak keamanan semakin menjadi jadi, dengan melakukan pemutusan aliran listrik dirumahnya, serta mengeluarkan semua barang-barang yang ada didalam rumah dengan paksa. Keluarga Bapak Mula Joni Sihotang juga mengalami hal yang serupa atas tindakan refresif dan intimidasi dari pihak perusaahan. Akibat pengosongan rumah secara paksa, tanpa adanya penghuni rumah disaat itu. Beliau mengalami kehilangan beberapa barang berharga seperti Emas dan Uang kurang lebih sebesar Rp.7 juta. Ketika beliau pulang bekerja, ditemui barang-barang keseluruhan sudah berada diluar rumah. Sementara uang yang hilang tersebut, selama ini sudah bersusah payah dia cari dan dikumpuli. Dan yang tadinya direncanakan untuk biaya rumah sakit anaknya di medan, pupus sudah.

Saat ini buruh sangat mengaharapkan bantuan dari setiap stakeholder, agar kiranya perusahaan bertanggungjawab atas tindakan yang telah dilakukan. Karena selama ini parah buruh sudah merasa sangat berjasa terhadap perusahaan, rata-rata 5 – 20 tahun bekerja di perusahaan. Dengan jam kerja mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB, kehidupan mereka jauh dari sejahtera. Mereka juga tidak pernah menerima THR, maupun BPJS sebagai hak nya. Dan menurut pengakuan para buruh bahwasannya mereka juga menerima upah jauh dari upah rata-rata minimum yg telah ditentukan oleh UU. Yakni mereka menerima hanya sebesar Rp.35 rb/hari. Dan 70rb/Ton, jika memanen Buah Kelapa Sawit.

Adapun tuntutan kami, akibat pengusiran dan pengosongan rumah secara paksa oleh perusahaan tersebut:
1. Perusahaan harus bertanggung jawab dan memberikan THR kami yang selama ini, sebagai pengganti kerugiaan kami.
2. Perusahaan harus bersedia mengganti uang sebagai ganti rugi, agar kami bisa mendapat layanan BPJS, dimanapun nanti kami akan bekerja.
3. Perusahaan juga harus mengganti dan membayar seluruh upah minum kami selama ini, berdasarkan upah yang telah ditentukan oleh negara.
4. Perusahaan harus bertanggungjawab atas Pesangon kami para buruh. Atas akibat tindakan refresif yg telah dilakukan perusahaan kepada kami. Agar kami bisa mencari pekerjaan lain.

Dalam hal ini juga kami sebagai buruh yang sedang berjuang, dalam mendapatkan hak-hak dan segala tuntutan kami. Memohon dengan sangat kepada segenap stakeholder agar bisa membantu dan meringankan beban yang sedang kami alami saat ini. Kami juga berharap kehadiran Bapak/Ibu KOMNAS HAM, baik itu Komnas Perempuan dan juga Komnas Anak. Agar sudi kiranya mendampingi kami ditenda-tenda pengungsian. Hingga saat ini kami masih trauma akibat tindakan refresif, dan intimidasi yang dilakukan perusahaan terhadap keluarga kami para buruh. Kami takut, jika sewaktu-waktu pada malam hari tiba, kami akan di intimidasi kembali oleh pihak-pihak suruhan perusahaan.

Buat Bapak Jokowi juga, kami berharap kepada Bapak selaku Presiden RI agar memerintahkan anak buah bapak untuk mendampingi dan bisa mempercepat proses hukum yg sedang kami tempuh terhadap pihak perusahaan. KPK juga tolong agar dihadirkan, khusus untuk Perusahaan PTPN V Sei Rokan Riau. Karena disinyalir banyak kongkalikong yg mengarah pada praktik-praktik KKN. Kami tidak mau KKN berkembang biak di Rokan Hulu, khususnya di PTPN V Sei Rokan Riau. Karena kami masih punya saudara-saudara yg sedang aktif bekerja diperusahaan tersebut.

Ttd Sekjend FSBSI

Alter Situmeang

No kontak/informasi Pejuang Buruh:

– Alter Situmeang
(081275328370)

– Henry Sihombing
(081275550341)

– Indra Pasaribu
(082174647119)

– Sabar. F Sitanggang
(082384982346)

Catatan Data Korban:
– Afdeling V jumlah 22 KK,
– Afdeling IV jumlah 4 KK,
– Afd I jumlah 9 KK.
– Afd X jumlah 26 KK.
– Afd III jumlah 2 KK.
– Afd IIB jumlah 1 KK. Jumlah 64 KK yg masih bertahan di Camp Pengungsian.

Jumlah total korban keseluruhan yg mendapat intimidasi dan tekanan oleh pihak perusahaan sebanyak 150 KK.

Iklan

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke Kota Palembang sampai lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan menetap disana sampai dengan Januari 2015. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia. Sejak Januari 2015 sampai dengan sekarang, saya hijrah ke Ibukota Jakarta dan bergabung di Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT).
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s