Batak Center dan Prinsip Budaya Respek dalam Melestarikan Nilai Habatakon

IMG-20190322-WA0246

Kehadiran Batak Center diperlukan tidak saja dalam melestarikan bahasa, kesenian, maupun budaya, tetapi juga tumpah darah maupun keseluruhan aspek kehidupannya. Kelahiran Batak Center tidak terlepas dari upaya memperjuangkan keadilan dalam perspektif kebudayaan sebagaimana tertuang dalam konstitusi RI yaitu negara memajukan kebudayaan nasional. Demikian diungkapkan oleh Laksma TNI (Purn) Drs. Ir. Bonar L. Simangunsong, SE., MSc. mengawali pembicaraan dalam Diskusi Terbatas Batak Center bekerjasama dengan Forum Diskusi dan Seminar Perpustakaan Nasional RI pada Jumat, 22 Maret 2019 lalu.

Diskusi tersebut dimoderatori oleh Drs. Jerry RH Sirait (tokoh pendidikan dan kebudayaan, mantan Sekjen Badan Musyawarah Perguruan Swasta – BMPS) dengan tema “Brainstorming: Problematika Budaya Batak di Era Informasi” dan dihadiri oleh 14 orang peserta mewakili tokoh, pengamat, pegiat, maupun praktisi kebudayaan. 

Kekhawatiran dengan hadirnya Industry 4.0. sebagaimana tema diskusi kita, adalah sesuatu yang tidak perlu. Hinca IP Pandjaitan yang turut hadir dalam diskusi berpendapat bahwa Industry 4.0 dan Society 5.0. merupakan panggung saja. Batak bukan soal panggung, tetapi substansi Batak. Untuk itu tidak ada sesuatu yang baru dan dicemaskan dengan adanya perkembangan peradaban tersebut. Diskusi kita saat ini, sesungguhnya terjadi pada masa-masa sebelumnya. Jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan, sebab itu adalah kejadian yang berulang-ulang. Kehadiran Batak Center penting, tapi yang lebih penting adalah individu orang Batak itu. Poinnya adalah bukan Batak Center yang hebat, tetapi orang atau individu-individu didalamnya yang hebat. Oleh karena itu Prinsip Budaya yang perlu dibangun adalah ‘respect’ (baca: hormat), bukan menghakimi. Misalnya orang tua tidak boleh memonopoli atau menghakimi anak-anak dan menganggapnya tidak tahu apa-apa.

Sikap Respek ini juga berlaku terhadap leluhur, yaitu menghormati leluhur Batak, dalam Kitab Suci maupun Hukum Taurat dikatakan jelas yaitu “Ingkon pasangapohomu do natorasmu asa martua ho, jala leleng mangolu di tano na nilehon ni Jahowa Debatam di ho”. Atau hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu (Hukum Taurat ke-5). Pernyataan penghormatan tersebut sesungguhnya tidak saja kepada orang tua kita, tetapi sampai pada leluhur, orang tua kita itupun menjadi leluhur bagi generasi-generasi berikutnya. Jadi, barang siapa yang menghormati leluhurnya sama dengan mempersiapkan diri menjadi leluhur bagi generasi berikutnya. Bangsa yang menghargai kebudayaannya adalah bangsa yang tidak tahu identitas dan asal-usulnya atau dalam bahasa millenial saat ini adalah bangsa yang galau.

Kebudayaan harus dilihat sebagai potensi yang memiliki dampak secara ekonomi, contohnya Tugu. Tugu sebagaimana banyak kita saksikan di tanah Batak merupakan simbol peradaban. Potensi ini sesungguhnya dapat dikelola secara baik oleh Pemda setempat untuk dibuat kalender pariwisata berbasis budaya. Pesta atau peringatan tugu tidak asing lagi bagi masyarakat Batak, jika dikelola secara baik, pemerintah daerah bisa mengatur pesta atau peringatan tugu setiap bulannya yang berpotensi bagi pertambahan pendapatan daerah.

Selain itu, Kebudayaan merupakan Pengetahuan original masyarakat sebagai dasar bagi masyarakat Batak baik dalam mengelola sumber daya yang dimiliki, tetapi juga sebagai dasar strategi melakukan adaptasi terhadap perkembangan peradaban yang ada. Oleh karenanya kebudayaan Batak sebagai kearifan masyarakat Batak harus dilihat sebagai sumber pengetahuan yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan dalam setiap perkembangan peradaban.

Santiamer Sihalolo menambahkan bahwa kearifan-kearifan Batak selain keanekaragaman hayati (biodiversity) seperti anggir maupun tuak/bagot, dapat disaksikan melalui pemanfaatan ilmu landsekap (misalnya mambahen jabu dang boi di rura, ingkon di abingan ni dolok), ilmu arsitektur, ilmu perbintangan, ilmu peradatan, ilmu ketatanegaraan, ilmu datu (kedokteran), ilmu silat, dan beberapa pengetahuan lain yang masih dapat kita lihat pada bukunya laklak. Terkait ilmu arsitektur, Joyce Sitompul boru Manik menceritakan pengalamannya dalam membangun kembali Ruma Batak Jangga Dolok di Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir. Selain karena kecintaannya terhadap arsitektur tradisional, didapati sebuah fakta bahwa pengetahuan tertulis tentang arsitektur Batak Toba sangatlah minim, sekalipun dicari ke mesin pencari google. Namun dengan adanya pembangunan satu unit Ruma Jangga Dolok, setidaknya sudah ada pengetahuan arsitektur Batak Toba yang terdokumentasi baik secara tertulis maupun audio visual.

R. Hutagalung, salah seorang mantan pengurus lansia Distrik HKBP DKI Jakarta berpendapat bahwa melestarikan Budaya Batak maka perlu dilihat sebagai upaya melestarikan nilai-nilai universalitas yang bersumber dari Habatakon tersebut, dalam implementasinya adalah meninggalkan hal-hal buruk yang melekat pada kebudayaan Batak, serta melanjutkan nilai-nilai baik dari kebudayaan Batak sebagaimana terdapat dalam Dalihan Natolu. Sebagai contoh Anggir ini bisa mensejahterakan masyarakat dan alat untuk membersihkan diri. Pada kenyataannya Anggir seolah diidentikkan dengan hasipelebeguon walau sesungguhnya itu adalah siasat yang diciptakan oleh missionaris mendiskreditkan kekayaan sekaligus kearifan lokal Batak. Sudah saatnya kita tidak menjustifikasi pemahaman sempit kepada hal-hal yang mempertentangkannya dengan keyakinan. Contoh lain yaitu Bagot/ Tuak. Budidaya tuak diperlukan bukan dalam kerangka menumbuhkan semangat minum tuaknya, tetapi potensi ekonomi dari Bagot tersebut tidak hanya pada air nira, tetapi juga dari pohon, buah, dan lain sebagainya. Sebagai sebuah tradisi, kehidupan mar lapo pun perlu dibatasi antara pukul 7 sampai dengan 9 malam, agar tidak mengganggu pada produktivitas kerja.

Kembali pada tema diskusi “Brainstorming: Problematika Budaya Batak di Era Informasi”, maka perkembangan peradaban adalah sesuatu yang harus dipertentangkan, tetapi patut disyukuri dan perlu dimanfaatkan agar nilai-nilai Habatakon tersebut semakin melekat pada orang-orang Batak yang secara sederhana dicirikan melalui Marga dan Silsilahnya. ‘Pewarisan’ kebudayaan Batak dari orang tua kepada anak-anak melalui pengajaran (etika Batak dan lainnya) dalam kehidupan sehari-hari (pun) tetap diperlukan. Hal-hal yang tidak lagi bisa disampaikan oleh orang tua, maka diharapkan ada lembaga informal di luar keluarga ataupun sekolah yang dapat melakukannya. Hanya yang punya kepentinganlah yang kemudian mempunyai keinginan. Hanya orang yang punya keinginanlah yang kemudian mau action atau bertindak, demikian ditegaskan oleh Victor M Lumban Tobing, salah seorang trainer yang juga pendiri Batak Center.

Peserta Diskusi bersepakat dan berketetapan hati bahwa Batak Center mesti “membekali kaum muda Batak Raya” menyongsong masa depan yang lebih baik dalam berbagai aspek. Kehadiran Batak Center diharapkan dapat memastikan negara tunduk dan menjalankan konstitusi khususnya Pasal 32 UUD 1945, sebagaimana dijelaskan bahwa negara memiliki tanggungjawab untuk memajukan kebudayaan nasional, menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya (ayat 1) serta negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional (ayat 2). (*)

Penulis: Jhohannes Marbun

Iklan

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke Kota Palembang sampai lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan menetap disana sampai dengan Januari 2015. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia. Sejak Januari 2015 sampai dengan sekarang, saya hijrah ke Ibukota Jakarta dan bergabung di Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT).
Pos ini dipublikasikan di BERITA, Warisan Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s