Potensi Warisan Budaya (Sejarah) Pekabaran Injil di Tanah Batak dalam Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba[1]

Oleh: Jhohannes Marbun, S.S., M.A.[2]

IMG-20180316-WA0220

 

Pendahuluan: Danau Toba Sebagai Daya Tarik Utama

Presiden Jokowi telah menetapkan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas Nasional pada tahun 2015 lalu. Jika melihat perjalanannya, Dalam 20 besar pengembangan Bali baru, Danau Toba nyaris tidak diajukan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai 10 besar destinasi pariwisata prioritas nasional karena Menteri Pariwisata RI kurang berminat mengangkat pariwisata Danau Toba yang belum jadi atau masih berkembang. Alasan lain yaitu ketidaksiapan masyarakat setempat menyambut program pengembangan pariwisata prioritas nasional tersebut.[3] Namun, Menteri Koordinator Kemaritiman Republik Indonesia, Dr. Rizal Ramli mengumumkan Danau Toba masuk dalam 10 prioritas pariwisata nasional[4] pada awal November 2015[5]. Tentu keputusan pemerintah tersebut akan membawa dampak perubahan besar bagi kawasan Danau Toba. Di satu sisi, perubahan bisa terjadi ke arah positif, namun di sisi lain perubahan bisa terjadi ke arah negatif.

Danau Toba yang dikenal sebagai danau kaldera terbesar dunia ini memang pantas menjadi daya tarik sekaligus ikon pariwisata utama yang perlu dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia. Selain memiliki keindahan alam yang eksotis dan menyimpan potensi ekonomi yang besar, Danau Toba juga merupakan warisan dunia. Danau ini terbentuk akibat letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu, terkuat di bumi dalam dua juta tahun terakhir. Letusan Gunung Toba menjadi penanda terbentuknya dunia baru pasca kematian sebagian besar makhluk hidup di bumi, termasuk terbentuknya kebudayaan baru yaitu kebudayaan Batak melalui proses interaksi antara manusia yang bermigrasi dan kemudian berinteraksi dengan alam dan lingkungan kawasan Danau Toba. Keberadaan Danau Toba sebagai daya tarik utama pariwisata akan berdampak pada potensi daya tarik wisata lainnya di Sumatera Utara.

  

Potensi Pariwisata Berbasis Warisan Budaya di Sumatera Utara

Berbicara mengenai pariwisata, Kementerian Pariwisata RI menyebutkan bahwa potensi daya tarik pariwisata Indonesia bertumpu pada tiga portofolio produk yaitu budaya sebesar 60 persen, alam sebesar 35 persen, dan buatan manusia sebesar 5 persen. Portofolio budaya yang dikembangkan berupa wisata warisan budaya dan sejarah (20 %), wisata belanja dan kuliner (45 %), serta wisata kota dan desa (35 %). Sedangkan portofolio alam adalah terkait produk wisata bahari (35 %), wisata ekologi (45 %) dan wisata petualangan (20 %). Sedangkan portofolio buatan manusia fokus pada pengembangan wisata MICE (25 %), wisata olahraga (60%), dan objek wisata terintegrasi (15 %).[6] Pariwisata budaya sebagai salah satu portofolio produk pariwisata merupakan jenis pariwisata yang menawarkan kebudayaan berupa atraksi budaya baik bersifat tangible maupun intangible sebagai daya tarik utama untuk menarik kunjungan wisatawan. Dalam intangible heritage, unsur-unsur yang bisa dijadikan sebagai daya tarik antara lain tradisi suatu suku bangsa seperti ritual keagamaan dan/atau ritual adat, dan seni pertunjukan. Sedangkan dalam cultural heritage, daya tarik yang ditawarkan berupa benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala, bangunan, dan lansekap budaya.

Potensi pariwisata di Sumatera Utara secara garis besar dibagi ke dalam pariwisata alam, budaya, dan buatan (kreativitas). Untuk potensi pariwisata berbasis budaya, di Sumatera Utara memiliki potensi budaya yang sangat beragam dan mewakili beberapa periodisasi. Seperti masa Prasejarah, masa Hindu/Budha, masa Islam, masa pekabaran Injil, masa Kolonial dan masa yang paling akhir yaitu pra, saat maupun pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Pada masa prasejarah, peradaban ditandai dengan peristiwa alam meletusnya Gunung Toba membentuk kaldera maupun tradisi megalitik yang tersebar di beberapa daerah seperti Nias, Samosir, Humbang Hasundutan, maupun Simalungun. Selanjutnya masa Hindu/Budha atau dikenal pula sebagai masa klasik dapat diketahui tinggalan budayanya berupa Candi (Bahal Batu, Manggis, Sipamutung, Bara, Pulo, dll) di Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Tengah, maupun di Tapanuli Selatan.

Masa Islam mulai berkembang sejak adanya kontak dengan pedagang-pedagang Arab, Persia, dan Gujarat di wilayah Sumatera Utara direpresentasikan dengan adanya Situs Makam Mahligai di Barus[7], Tapanuli Tengah, Kompleks Makam Papan Tinggi, Kab. Tapanuli Tengah, Komp. Makam Tuan Ibrahim Syech – Tapanuli Tengah, Komp. Makam Tuan Ambar Tapanuli Tengah, Komp. Makam Raja-Raja Sorkam yang seluruhnya telah ditetapkan dan didaftarkan sebagai Cagar Budaya yang dikukuhkan melalui SK Menteri NoPM.88/PW.007/MKP/2011. Selain itu, Masa Islam ditandai dengan kerajaan-kerajaan Melayu yang bercorak Islam, yang ada di beberapa lokasi seperti Medan (Kesultanan Deli), Asahan (Kesultanan Asahan), Deli Serdang dan sekitarnya (Kesultanan Serdang).

Selanjutnya masa pekabaran Injil yang juga bertautan dengan masa Islam maupun masa Kolonial, membawa misi Kekristenan di Tanah Batak pada awal abad 19 sampai dengan awal abad 20 dan juga Kepulauan Nias. Khusus di Tanah Batak, beberapa wilayah yang menyimpan jejak-jejak missi diantaranya Barus [8], Parao Sorat, Lobu Pining, Silindung, Toba, Humbang, dan beberapa lainnya. Jejak-jejak missi tersebut dapat kita saksikan melalui tinggalan budaya seperti gedung-gedung gereja berarsitektur Eropa, Rumah Sakit, tempat pendidikan, tempat tinggal, makam missionaris, catatan tertulis, maupun benda budaya lainnya.  Beberapa tokoh pekabar Injil, diantaranya Richard Burton dan Nathan Ward (1824, Utusan Pekabaran Injil Baptis, Inggris), Munson dan Lyman (1834, utusan The American Board of Commissioners for Foreign Mission), H. N. van der Tuuk (Peneliti bahasa Batak untuk Penerjemahan Alkitab, utusan Nederlandsche Bijbel genootschap), G. Van Asselt (1857, utusan dari jemaat di ErmeloBelanda­), Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar (31 Maret 1861, dua orang Batak pertama dibaptis), Pdt. Heine, Pdt. Klemmer, Pdt. Betz dan Pdt. Asselt (7 Oktober 1861, rapat pendeta di Sipirok), Ludwig Ingwer Nommensen (1862/1864, utusan RMG) dan beberapa lainnya, termasuk tokoh-tokoh masyarakat Batak yang kemudian menganut agama Kristen.

Begitu juga pada masa kolonial, tinggalan-tinggalan budaya yang dapat kita saksikan adalah gedung-gedung berarsitektur Eropa maupun bergaya Indis (Perpaduan arsitektur Eropa maupun lokal) yang tersebar di beberapa kota besar di Sumatera Utara seperti Medan, Pematang Siantar, dan Sibolga. Sedangkan tinggalan pra maupun pasca kemerdekaan berupa bangunan-bangunan yang digunakan sebagai tempat pengasingan Bung Karno.

Selain itu, ada juga tinggalan-tinggalan budaya suku yang beririsan dengan periodisasi pembabakan sejarah tersebut, seperti tinggalan Suku Batak, Melayu, maupun suku bangsa lainnya yang dapat direpresentasikan salah satunya melalui tinggalan arsitektural. Kekayaan budaya sebagaimana disebutkan di atas, perlu dioptimalkan dengan cara dimanfaatkan dan dikembangkan keberadaannya.

 

 Warisan Budaya Sejarah Pekabaran Injil di Tanah Batak dan Pemanfaatannya

Kehadiran missionaris di Tanah Batak telah mewariskan tinggalan Budaya atau sering disebut sebagai warisan budaya baik berupa warisan budaya bendawi (tangible heritage) maupun warisan budaya non bendawi (intangible heritage) kepada masyarakat Batak. Warisan budaya bendawi masa Pekabaran Injil dapat diketahui melalui tinggalan fisik seperti bangunan gereja ber arsitektur Eropa (ada juga penyesuaian dengan arsitektur lokal) seperti gereja Dame di Huta Dame, gereja HKBP di Sigumpar, gereja HKBP Kota Balige, Makam Nommensen, maupun obyek benda/bangunan lainnya. Sedangkan warisan budaya non bendawi diwakili oleh adanya ilmu pengetahuan, agama, kebiasaan-kebiasaan Eropa dalam keseharian masyarakat Batak, dan karya budaya non bendawi lainnya.

Pada beberapa kasus, orang awam kadangkala kesulitan menggolongkan suatu obyek masuk kategori warisan budaya bendawi maupun warisan budaya non bendawi. Hal yang membedakan adalah dasar logika dalam menentukan obyek budaya tersebut. Terompet, orgel, piano, lonceng gereja disebut sebagai warisan budaya bendawi, apabila obyek tersebut memiliki asosiasi (hubungan) dengan tokoh maupun peristiwa tertentu. Misalnya Terompet Ompui Dr. I.L. Nommensen atau benda lain yang melekat dengan keseharian tokoh tersebut. Sedangkan penentuan warisan budaya non bendawi, biasanya berhubungan dengan ide (filsafat, sosial, teknis, dll) atau gagasan di balik (pembuatan) benda tersebut. Contohnya lonceng gereja yang dibuat oleh pengrajin desa Sitampurung, Kecamatan Lintong Nihuta. Teknik pembuatan sehingga menghasilkan produk budaya yaitu lonceng gereja, bisa ditetapkan sebagai warisan budaya non bendawi, namun demikian harus dipastikan bahwa warisan budaya itu asli hasil pemikiran dari masyarakat setempat. Tentu sangat beragam, warisan budaya sebagai tinggalan pekabaran Injil di tanah Batak. Bukti peradaban ini tidak hanya menarik untuk diteliti sebagai sumber pengetahuan tetapi juga sebagai pelambang identitas dan jati diri sebuah bangsa serta dapat dimanfaatkan untuk tujuan wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Di Indonesia, pengelolaan warisan budaya baik bendawi maupun non bendawi sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Warisan budaya bendawi diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, sedangkan warisan budaya non bendawi telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Pada kesempatan ini, poin yang hendak dijelaskan yaitu warisan budaya bendawi atau dalam terminologi peraturan perundang-undangan disebut cagar budaya.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (selanjutnya disebut UUCB), yang dimaksud dengan cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan[9]. UUCB menjelaskan bahwa suatu obyek cagar budaya perlu dilestarikan, salah satunya karena memiliki nilai penting bagi agama, dan diperoleh melalui proses penetapan.

Jika merujuk peraturan tersebut, maka warisan budaya bendawi yang terkait sejarah missi kekristenan di tanah Batak sangatlah relevan untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang bertanggungjawab mengurusi bidang kebudayaan[10]. Selanjutnya, usulan tersebut akan dikaji kelayakannya sebagai cagar budaya atau tidak oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB)[11].

Adapun kriteria suatu obyek ditetapkan sebagai cagar budaya diantaranya[12]:

  1. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
  2. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
  3. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan
  4. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Satuan ruang geografis dapat pula ditetapkan Kawasan Cagar Budaya, apabila memenuhi syarat, diantaranya[13]:

  1. mengandung 2 (dua) Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan;
  2. berupa lanskap budaya hasil bentukan manusia berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
  3. memiliki pola yang memperlihatkan fungsi ruang pada masa lalu berusia paling sedikit 50 (lima puluh) tahun;
  4. memperlihatkan pengaruh manusia masa lalu pada proses pemanfaatan ruang berskala luas;
  5. memperlihatkan bukti pembentukan lanskap budaya; dan
  6. memiliki lapisan tanah terbenam yang mengandung bukti kegiatan manusia atau endapan fosil.

Lalu apa sesungguhnya manfaat pelestarian Cagar Budaya? Pasal 85 UUCB menyebutkan bahwa

Cagar Budaya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata[14]. Selanjutnya bagi obyek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pemanfaatan dan promosi[15] Cagar Budaya yang dilakukan oleh setiap orang[16] baik berupa izin pemanfaatan, dukungan Tenaga Ahli Pelestarian, dukungan dana, dan/atau pelatihan[17]. Manfaat nyata dari kegiatan pelestarian warisan budaya (sejarah) pekabaran injil di tanah Batak, diantaranya: 1). jaminan perlindungan dan/atau keamanan atas obyek cagar budaya yang telah ditetapkan, 2). ‘merawat’ ingatan masyarakat atas suatu peristiwa atau tokoh yang ada di balik obyek yang dilestarikan, 3). membangun harmoni di tengah lingkungan sosial beragam, 4). menjadi rujukan atau referensi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, 5). menggali proses interaksi budaya dan perubahannya, 6). prinsip kesinambungan budaya (memulai dengan tujuan akhir yang jelas: masa lalu, masa kini, dan masa depan), dan 7). kepentingan pariwisata minat khusus yang berhubungan dengan sejarah missi yang berdampak positif bagi pendapatan masyarakat di sekitar obyek wisata.

Namun demikian, dari sekian banyak potensi warisan budaya (sejarah) pekabaran injil di Tanah Batak, belum ada satupun yang terdaftar dalam register nasional cagar budaya. Keadaan ini berbeda dengan masyarakat lainnya di Sumatera Utara, dimana para pihak berupaya mendaftarkan warisan budayanya untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Jikalaupun di daerah lain di Indonesia banyak bangunan gereja yang didirikan pada masa kolonial telah ditetapkan sebagai cagar budaya baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun tingkat nasional biasanya didasarkan pada hobi atau kegemaran kelompok-kelompok masyarakat tersebut. Bahkan ada asset HKBP yang telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berupa gedung gereja HKBP Bukit Tinggi[18] dan HKBP Yogyakarta[19] oleh kepala daerah di wilayahnya masing-masing.

 

Peluang Pengembangan dan Rekomendasi

Pemanfaatan dan pengembangan warisan budaya sejarah pekabaran Injil di Tano Batak merupakan salah satu cara dimana warisan budaya dan kearifan lokal dapat terjaga dan diapresiasi sehingga menciptakan nilai tambah. Oleh karena itu, institusi gereja perlu mempertimbangkan secara serius untuk mendaftarkan setiap potensinya warisan budaya kepada pemerintah/pemdanya. Demikian pula pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota di lingkup Sumatera Utara perlu mempersiapkan perangkat terkait untuk menindaklanjuti harapan masyarakat tersebut seperti menyiapkan sumber daya manusia (Tim Ahli Cagar Budaya, tenaga ahli, dan tenaga pendukung), kebijakan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan (pemanfaatan dan pengembangan).

Selain itu, kesadaran warga gereja untuk memanfaatkan dan mengembangkan potensi warisan budaya pekabaran Injil di Tano Batak sangatlah bermanfaat, terutama bagi masyarakat yang memiliki minat untuk mempelajari sejarah pekabaran Injil, masyarakat Batak, maupun masyarakat Kristen di seluruh dunia. Kedepan, peran gereja sangat diperlukan untuk membentuk divisi yang khusus melakukan penelitian, kajian, dan pengelolaan asset sejarah dan budaya.

Peran Komisi Pelaksana Pelayanan Strategis Huria Kristen Batak Protestan (KPPS HKBP) yang memiliki fokus kegiatan dalam bidang lingkungan hidup, pariwisata, dan pemberdayaan desa sangat diharapkan. Komitmen pemerintah RI untuk membangun kawasan Danau Toba perlu diterjemahkan oleh KPPS sebagai langkah nyata dalam memberdayakan masyarakat di bidang pariwisata berbasis lingkungan hidup. Pada tataran praktis, komitmen tersebut dapat dirangkum dalam suatu aktivitas pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dapat mempengaruhi perubahan positif di mana melalui pariwisata dapat mengurangi dan bahkan memberantas kemiskinan, memastikan kelestarian lingkungan, dan memberdayakan  potensi asset yang ada dengan memanfaatkan bakat dan komunitas masyarakat setempat. Pendekatan ini disebut dengan Pengembangan Aset Berbasis Aset[20] (Asset Base Core Development atau ABCD).[21] Ini adalah pendekatan yang mengkatalisis perubahan dan pengembangan berdasarkan pemanfaatan bakat dan kapasitas masyarakat. Model ABCD memang menghambat pengembangan yang dibawa dari sumber luar, namun memberi energi perubahan dan perkembangan dari dalam. Untuk pembangunan yang benar-benar berkelanjutan, penting untuk berfokus pada kekuatan masyarakat dan juga kebutuhannya.

———-JM———-

 

[1] Disampaikan dalam Focus Group Discussion “Destinasi Wisata Evangelisasi di Tano Batak” yang diselenggarakan oleh KPPS HKBP, tanggal 16 Maret 2018 bertempat di HKBP Kebayoran Baru.

[2] Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA), Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), dan Ketua Bidang Kebudayaan, Parsadaan Batak Alumni Yogyakarta (PABAYO).

[3] Pertemuan YPDT dengan Kementerian Pariwisata RI di Gedung Sapta Pesona pada Kamis, tanggal 26 Maret 2015. Kementerian Pariwisata RI lebih memprioritaskan 8 (delapan) kawasan Pariwisata melalui 3 (tiga) pintu masuk utama (Bali, Jakarta, dan Batam). Pertemuan tersebut menjadi pembahasan serius dalam Rapat Pengurus YPDT di Kampus UKI Cawang, tanggal 14 April 2015.

[4] Prioritas Pariwisata Nasional merupakan amanat Presiden RI yang ditindaklanjuti dan diteruskan oleh Sekretaris Kabinet Nomor B-652/Seskab/Maritim/11/2015 tanggal 6 November 2015. Baca juga: http://id.beritasatu.com/home/penetapan-10-destinasi-prioritas-adalah-amanat-presiden/146322

[5] lihat: http://hariansib.co/mobile/?open=content&id=87415, Rizal Ramli menerima Audiensi YPDT Kamis, 19 November 2015.

[6] Pemaparan Dadang Rizki Ratman, SH., MPA., Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI dengan tema “Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas 2016 – 2019” pada Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Pariwisata, Jakarta – 27 Januari 2016.

[7] Dr. HAMKA menyebutkan bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera.

[8] Berdasarkan keterangan Prof. W.B. Sijabat sebagaimana dikutip oleh Edward Simanungkalit dalam blognya (http://edwardsimanungkalit.blogspot.co.id/2015/03/barus-kota-tertua-awal-masuknya-kristen.html), orang Kristen Nestorian telah masuk ke Barus dalam abad VII M. Barus atau Fansur ini dicatat oleh seorang penulis Kristen Nestorian bernama Shaik Abu Saleh al Armini dalam satu dokumen penting dalam bahasa Arab yang ditulis dalam abad XII M dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1895. Di dalam dokumen ini dicatat bahwa telah ada orang Kristen Nestorian sejak abad ke-7 di Fansur, Barus (Sijabat, 2007:34-35).

[9] Pasal 1 angka 1 UUCB

[10] Pasal 23 ayat (1) dan Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUCB

[11] Pasal 31 UUCB

[12] Pasal 5 UUCB

[13] Pasal 10 UUCB

[14] Pasal 85 ayat (1) UUCB

[15] Pasal 85 ayat (4) UUCB disebutkan bahwa Promosi Budaya dilakukan untuk memperkuat identitas budaya serta meningkatkan kualitas hidup dan pendapatan masyarakat

[16] Pasal 85 ayat (2) UUCB

[17] pasal 85 ayat (3) UUCB

[18] SK Menteri Pendidikan dan Pariwisata RI: SK Menteri No. PM.05/PW.007/MKP/2010

[19] Keputusan Gubernur DIY Nomor 210/KEP/2010 ter tanggal 02 September 2010 dan SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No. PM.89/PM.007/MKP/2011

[20] Ada 7 kategori aset, diantaranya: Manusia (orang dan keterampilan, pengetahuan, pengalaman, kepribadian, gagasan); Alam (tanah, air, hutan, margasatwa, matahari); Fisik (bangunan tetap, struktural atau buatan manusia, bangunan, rumah, gereja); Sosial (hubungan, pertemanan, jaringan, tradisi, budaya); Ekonomi (uang tunai, modal, tabungan, upah, pensiun); Temporal (waktu, siang hari, musim, umur); dan Spiritual (iman, harapan dan cinta, doa, ibadah). Baca link: http://danautoba.org/membangun-pariwisata-berkelanjutan-di-danau-toba/, update 14 Maret 2018.

[21] idem.

Iklan

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke Kota Palembang sampai lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan menetap disana sampai dengan Januari 2015. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia. Sejak Januari 2015 sampai dengan sekarang, saya hijrah ke Ibukota Jakarta dan bergabung di Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT).
Pos ini dipublikasikan di ARTIKEL dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s