Menyoal Cagar Budaya Makam Mbah Priuk

17510541-MG-4311-kompasdotcom

Pintu masuk Makam Mbah Priok (Dok.kompasdotcom)

Oleh: Jhohannes Marbun*

Langkah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengeluarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta, Nomor 438 Tahun 2017 Tentang Penetapan Kawasan Maqom Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad (Mbah Priuk) Sebagai Lokasi Yang Dilindungi dan Diperlakukan Sebagai Situs Cagar Budaya menuai kecaman dari sebagian politisi, sejarahwan, dan budayawan.

Keputusan Ahok tersebut dipersoalkan dengan mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (UUCB 11/2010). Sebagian orang melihat bahwa keputusan itu tidak memenuhi syarat penetapan berdasarkan kriteria cagar budaya, Pasal 5 UUCB 11/2010:“Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a). berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; b). mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; c). memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan d). memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.”Huruf a dan b di atas adalah soal identifikasi awal cagar budaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat umumnya; huruf c sebagai kriteria kelayakan obyek cagar budaya. Dalam kasus Makam Mbah Priuk, para ahli lintas bidang yang tergabung di Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) akan mengkaji secara mendalam nilai-nilai yang terkandung di balik obyek tersebut. Sedangkan huruf d, ditentukan dan/atau sejalan dengan hasil kajian TACB pada huruf c. Nilai penting makam, biasanya dikaitkan dengan sejarah tokoh yang dimakamkan. Kecuali makam-makam Prasejarah atau makam yang terkait dengan penanda masa tertentu seperti makam tua di Barus atau makam tua Menak Koncar di Lumajang, tidak diketahui siapa sosok yang dimakamkan, tetapi melalui bukti-bukti arkeologi yang ditemukan di sekitar makam menandakan masa waktu dan peradaban tertentu, maka makam tersebut layak dipertahankan keberadaannya.

Pada kasus makam Mbah Priuk, Sejarahwan dan TACB tampaknya hanya memiliki sedikit informasi tentang sosok Mbah Priuk, tidak didukung bukti sejarah (tulisan) maupun bukti arkeologi yang kuat. Jika merujuk Pasal 5, Makam Mbah Priuk belum layak ditetapkan sebagai cagar budaya. Namun, apabila kemudian hari ditemukan bukti-bukti sejarah atau arkeologi yang kuat, maka makam Mbah Priuk layak ditetapkan sebagai cagar budaya. Kajian kelayakan obyek sebagai cagar budaya sangat tergantung pada kelengkapan data dan bukti yang dimiliki.

Selain Pasal 5, penentuan kelayakan obyek sebagai cagar budaya dapat pula mengacu Pasal 11 UUCB 11/2010: Benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang atas dasar penelitian memiliki arti khusus bagi masyarakat atau bangsa Indonesia, tetapi tidak memenuhi kriteria Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 10 dapat diusulkan sebagai Cagar Budaya. Jadi, penentuan kelayakan cagar budaya tidak selalu merujuk Pasal 5 UUCB 11/2010. Meskipun, rekomendasi TACB tetap menjadi dasar untuk menetapkan cagar budaya sebagaimana diatur Pasal 36 UUCB 11/2010. Misalnya kita merujuk Peristiwa Koja, 11 April 2010, yang menelan 3 orang korban meninggal dan ratusan lainnya terluka untuk mempertahankan makam Mbah Priuk perlu menjadi catatan penting bagi TACB untuk mengkaji mendalam arti khusus makam bagi masyarakat setempat sebagai aspek penting penetapan cagar budaya.

Polemik

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) menemukan sejumlah modus terjadinya penghancuran bangunan atau situs (yang diduga) cagar budaya di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini terjadi karena adanya multi tafsir terhadap Pasal 31 ayat (5) UUCB 11/2010: “Selama proses pengkajian, benda, bangunan, struktur, atau lokasi hasil penemuan atau yang didaftarkan, dilindungi dan diperlakukan sebagai Cagar Budaya. Dalam kenyataan terjadi beberapa obyek warisan budaya yang masih dalam proses pengkajian dihancurkan dan pelakunya tidak mendapatkan sanksi hukum apapun. Lebih tragis lagi, obyek tersebut sudah selesai dikaji dan dinyatakan layak ditetapkan sebagai cagar budaya oleh TACB, atau bahkan ada yang sudah direkomendasikan kepada Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri Pendidikan dan kebudayaan, tetapi terlanjur dirusak. Contoh, Bioskop Banteng HEBE di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Januari 2010 dihancurkan padahal sudah direkomendasikan kepada Menbudpar RI (2009); Bangunan eks Mess AURI Jalan A.M. Sangaji, Yogyakarta, dihancurkan 2011; Bangunan Tjan Bian Thiong di Jalan Pajeksan, Yogyakarta, sebagai penanda kawasan Cagar Budaya Malioboro dihancurkan 2013; Bangunan Sinagoge di Jalan Kayon, Surabaya, dihancurkan 2013; dan masih banyak lagi.

Penghancuran terjadi hanya karena obyek tersebut belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Celakanya, UUCB 11/2010 yang sudah berjalan 6 tahun lebih, belum memiliki Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan UU, yang sebenarnya bisa menampung kebijakan tertentu yang hanya tersirat dalam UU.

Terobosan Hukum

Di tengah polemik tersebut, Keputusan Gubernur DKI tersebut dapat menjadi terobosan hukum untuk mengatasi kebuntuan dan kegamangan menjalankan aturan perundang-undangan yang ada, khususnya polemik Pasal 31 ayat (5) UUCB 11/2010. Pasal tersebut sering dimanfaatkan oleh pelaku maupun oknum Pemerintah (Pemda) untuk tidak menindak pelaku perusakan/penghancuran obyek yang diduga sebagai cagar budaya.

Gubernur DKI memiliki argumentasi kuat dengan klausul Menimbang huruf c: “Bahwa sesuai ketentuan Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya diatur bahwa Selama proses pengkajian, benda, bangunan, struktur, atau lokasi hasil penemuan atau yang didaftarkan, dilindungi dan diperlakukan sebagai Cagar Budaya.” Klausul menimbang tersebut menjadi dasar dalam Keputusan Gubernur DKI. Pada klausul Memutuskan Menetapkan poin ketiga: “Penetapan Kawasan Maqom Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad (Mbah Priuk) sebagai lokasi yang dilindungi dan diperlakukan sebagai situs cagar budaya akan ditindaklanjuti dengan pengkajian oleh Tim Ahli Cagar Budaya.” Poin ketiga Menetapkan tersebut menegaskan bahwa Keputusan Gubernur DKI tidak bertentangan dengan undang-undang dan sekaligus menegaskan kewenangan TACB untuk mengkaji kelayakan Makam Mbah Priuk sebagai cagar budaya sebagaimana diatur undang-undang. Keputusan Gubernur DKI dapat dilihat sebagai putusan sementara untuk melindungi obyek secara hukum dari kemungkinan penghancuran atau pengrusakan sebagaimana terjadi selama ini sampai ada rekomendasi dari TACB. Sesungguhnya Keputusan tersebut menjadi preseden dalam pelestarian cagar budaya di tanah air. Namun, Gubernur DKI Jakarta harus terbuka kemungkinan mengoreksi keputusan yang telah dikeluarkan apabila kedepannya, TACB memberikan rekomendasi berbeda.

* Penulis adalah Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA), Alumni Pasca-sarjana Arkeologi UGM, dan Anggota Tim UGM untuk Pembahasan RUU Cagar Budaya.

Iklan

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di OPINI dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Menyoal Cagar Budaya Makam Mbah Priuk

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s