Marbinda di Siborongborong

20161224_074329Barangkali kita masih asing dengan kata ‘binda’? Bagi masyarakat Batak kata binda atau marbinda tentu sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi masyarakat Batak perantau khususnya generasi muda, mungkin sudah sangat asing di telinga, atau jikalaupun masih akrab, banyak yang tidak tahu arti kata tersebut.

Op. Pangihutan Lumbantoruan (74), tetua masyarakat Siborongborong yang saya temui di lokasi binda di Jalan Makmur Sabtu pagi ini (24/12/2016) memberikan penjelasan mengenai ‘binda’. Binda merupakan tradisi yang lazim di masyarakat Batak untuk memotong hewan peliharaan (pinahan). Binda memiliki arti ‘bagi’.

Sedangkan ‘marbinda’ memiliki pengertian musyawarah atau kesepakatan yang dilakukan suatu kelompok masyarakat untuk memotong hewan peliharaan dan dibagi sama rata baik daging, tulang, kulit, bagian dalaman maupun bagian lainnya kepada orang yang bersepakat melakukan ‘binda’.

Op. Pangihutan menjelaskan lebih lanjut bahwa ‘marbinda’ bisa dilakukan dengan melakukan perencanaan setahun sebelumnya seperti untuk menyambut pesta Natal yang lazim dilakukan setiap tahunnya. Masyarakat Jalan Makmur sebagaimana kita saksikan hari ini sudah merencanakan ‘marbinda’ sejak setahun sebelumnya dengan jumlah anggota 30 orang dan memberi iuran lima puluh ribu rupiah tiap bulannya. Lalu pada waktu yang telah ditentukan, masyarakat membeli kerbau lalu dipotong dan dibagi kepada orang-orang yang telah bersepakat dan memberikan iuran.

Namun demikian, lanjut Op. Pangihutan, kegiatan ‘marbinda’ tidak selalu direncanakan. Misalnya karena kerbau atau babi sakit, lalu dibicarakan untuk dipotong dan dibagi ke orang-orang yang telah bersepakat. Demikian pula, ‘marbinda’ tidak selalu dikaitkan dengan perayaan tertentu, tetapi segala kegiatan yang patut disyukuri (suka cita) atau berhubungan dengan harapan (cita-cita). Misalnya kegiatan semai, tanam/tabur, atau panen padi. “Ini dahulunya sering dilakukan oleh masyarakat Batak yang hidup bertani, bahkan sebelum kekristenan masuk ke tanah Batak”. Terang Op. Pangihutan.

Dalam konteks nilai, ‘marbinda’ memiliki nilai-nilai yang baik di antaranya gotong-royong, musyawarah dan bermufakat, kebersamaan, dan keadilan. Kiranya tradisi masyarakat yang masih ‘dipelihara’ ini mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat Batak yang telah mulai melupakan dan bagi bangsa Indonesia yang sedang diuji dalam bingkai persatuan di tengah-tengah keberagaman.

Penulis: Jhohannes Marbun

Iklan

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Marbinda, Warisan Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s