Sultan: Perusak Gedung SMA 17 Harus Diproses Hukum

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti agar segera memproses kasus perusakan bangunan SMA 17 Yogyakarta secara hukum.

“Saya minta pak Haryadi segera memproses hukum. Di luar sengketa yang terjadi, perusakan itu sudah melanggar SK Gubernur karena merusak bangunan cagar budaya (BCB),” ucap Sultan dijumpaiTribunjogja.com di sela peluncuran mikrobus listrik, Hevina di Taman Pintar, Senin (20/5/2013).

Meski dari sisi wilayah hukum kasus tersebut di bawah wewenang Pemkot Yogyakarta, namun Gubernur menyatakan siap berpartisipasi menyelesaikan kasus tersebut. “Kalau diminta partisipasinya, kami (Pemda DIY) siap terlibat,” tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dijumpai di kesempatan yang sama, mengaku tengah menyiapkan pelaporan kepada pihak yang berwenang terkait perusakan bangunan cagar budaya kelas C tersebut. Pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk mengumpulkan data-data terkait bangunan SMA 17 yang telah dirusak.

“Laporannya sedang dibuat, segera kami laporkan kepada yang berwajib,” ucap Haryadi.

Seperti diketahui sebelumnya, bangunan SMA 17 Yogyakarta di Jalan Tentara Pelajar telah dirusak oleh sekelompok orang sejak Senin (13/5/2013) pekan lalu. Terkait hal tersebut, Wali Kota maupun Gubernur tidak mau menduga-duga siapa oknum yang melakukan perusakan tersebut. Mereka menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada yang berwajib. (*)

Penulis : Eka Santi Anugraheni || Editor : Joko Widiyarso

sumber :Tribun Jogja online 20 Mei 2013

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s