Ketika Para Aktivis Cagar Budaya Bersatu di Kaliurang

Oleh: Aditya Darmasurya

Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X dari Surakarta pernah berkata “Rum kuncaraning bangsa dumunung haneng luhuring budaya”. Arti dari perkataan beliau adalah harumnya nama dan tingginya derajat suatu bangsa terletak pada budayanya. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia saat ini?

Banyaknya cagar budaya yang luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat mendorong Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) untuk mengumpulkan para aktivis cagar budaya dan pecinta cagar budaya. Mereka dikumpulkan dalam Pelatihan Advokasi Warisan Budaya yang diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta, 10 dan 11 Februari 2012. Advokasi dalam hal pelestarian warisan budaya masih baru dan masih banyak yang belum mengetahui pentingnya advokasi dengan langkah strategis terrencana untuk melestarikan warisan budaya. Hal ini pulalah yang menjadi alasan terbentuknya MADYA pada tanggal 9 Januari 2009 di Yogyakarta.

Hari Jumat, tanggal 10 Februari 2012, para peserta mulai berkumpul di Wisma Gajah Mada, Kaliurang, Yogyakarta. Sebanyak 45 peserta dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul pada hari itu, di antaranya ada yang dari Bandung Heritage, Komunitas Kota Toea Magelang, Dewan Kesenian Jambi, Ombudsman RI Perwakilan Jatim, BKP Borobudur, MPPM Lumajang, dan beberapa organisasi lainnya. Ada pula yang datang tidak mewakili suatu organisasi tertentu. Saya termasuk satu di antaranya.

13291611141922350882Joe Marbun, koordinator MADYA memberikan sambutan.

Setelah pembagian kamar, mandi, dan sholat maghrib, para peserta pun berkumpul di ruang utama Wisma Gadjah Mada. Acara pertama dimulai dengan sambutan oleh koordinator MADYA, Joe Marbun, yang memaparkan bagiamana pentingnya advokasi dalam pelestarian warisan budaya. Pemerintah terkadang mengambil kebijakan yang kontra terhadap pelestarian cagar budaya. Oleh karenanya, diperlukan suatu teknik advokasi tertentu dengan langkah terrencana untuk mengadvokasi pemerintah terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil. MADYA berdiri karena prihatin dengan beberapa oknum pemerintah yang membangun musem Pusat Informasi Majapahit (PIM) dengan merusak situs Trowulan, suatu kebijakan yang kontradiktif terhadap semangat pelestarian cagar budaya.

Acara kedua diisi oleh Pak Darosno, S.H., seorang advokat dari ATMA Solo, yang membeberkan seluk-beluk advokasi. Menurutnya, advokasi merupakan suatu ilmu terapan walaupun tidak ada jurusan tertentu yang mengajarkannya. Tentunya advokasi melibatkan dua pihak yang berseberangan dan duduk bersama, ada pihak yang dibela dan dilawan. Namun, konotasinya hendaknya dianggap sebagai bagaimana menyeimbangkan posisi dalam suatu advokasi. Ada hak yang dibela dan ada kewajiban dari yang dilawan.

13291663581423763803Pak Darsono menjelaskan pengertian advokasi

Acara selanjutnya adalah sesi diskusi yang dimulai dari paparan oleh Dr. Daud Aris Tanudirjo, dosen arkeologi UGM. Dalam paparannya Pak Daud menjelaskan penerapan UU No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan proses-proses dalam menentukan status cagar budaya. Menurut beliau, pelestarian memberikan ruang untuk perubahan terkendali. Pak Daud juga mengingatkan bahwa bukan hanya fisik cagar budaya tersebut saja yang dilestarikan. Nilai-nilai luhur dibalik cagar budaya itu pun harus dilestarikan pula.

13291665801671224620Pak Daud menjelaskan pentingnya melestarikan tidak hanya fisik cagar budaya saja, namun juga nilai-nilai luhur yang dipunyai oleh cagar budaya itu

Presentasi selanjutnya oleh Mansoer Hidayat, seorang aktivis Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) Timur, Lumajang. Mas Mansoer menceritakan pengalaman advokasi dari aktivis MPPM Timur Lumajang yang berusaha menghentikan pembangunan Perumnas di atas situs Biting. Situs Biting merupakan situs peninggalan Aria Wiraraja, seorang ahli siasat kepercayaan Raden Wijaya yang melahirkan kerajaan Majapahit Timur (sejarah menyatakan Aria Wiraraja berbagi wilayah kekuasaan dengan Raden Wijaya, dia mendapatkan daerah sebelah timur). Situs ini merupakan situs benteng tertua dan terluas di Nusantara. Sayangnya, usaha pengadvokasian yang selama ini dilakukan oleh MPPM Timur bersama MADYA ternyata belum memberikan hasil nyata. Perumnas masih melakukan proyek pembangunan dengan menghancurkan beberapa area Situs Biting. Pemerintah Kabupaten Lumajang seolah-olah (atau memang) tidak memperdulikan cagar budaya cikal bakal berdirinya kabupaten Lumajang ini. Pemerintah Pusat pun seperti tidak pro aktif dalam menyelamatkannya dari kehancuran. Bahkan, anehnya, pihak BP3 Jatim memberikan rekomendasi penerusan pembangunan Perumnas di area Situs Biting. Bahkan, Mas Mansoer bersama kawan-kawan sempat diduga hendak menyebarkan Hinduisme di kalangan warga.

13291593641123879897Mas Mansoer menceritakan pengalaman advokasi pelestarian Situs Biting

Namun, Mas Mansoer bersama kawan-kawan tidak kalah akal. Mereka mencoba memberikan penyadaran terhadap masyarakat akan pentingnya situs tersebut. Tahun 2011 kemarin kawan-kawan MPPM Timur mengadakan napak tilas yang diikuti oleh 10.000 warga Lumajang. Pada waktu itu mereka memberikan doorprize yang menarik seperti kulkas dengan pembiayaan sendiri dari kawan-kawan MPPM Timur. Masih banyak usaha lain yang dilakukan kawan-kawan MPPM Timur untuk mencoba menyadarkan masyarakat dan juga Pemerintah Kabuapten Lumajang akan pentingnya Situs Biting.

Diskusi pun berlangsung. Banyak masukan-masukan yang diutarakan oleh para peserta dalam diskusi malam itu. Mas Hadi dari Ombudsman RI Perwakilan Jatim menyampaikan bagaimana Ombudsman bisa membantu masyarakat apabila ada pejabat pemerintah yang tidak melakukan tugasnya dalam melayani publik, seperti kasus Pemerintah Kabupaten Lumajang terhadap pengrusakan Situs Biting. Selain itu, ada pula isu-isu lain yang dikemukakan contohnya adalah tentang kemungkinan didatangkannya investor tertentu demi pelestarian cagar budaya.

13291599812089278320Peserta dari Ombudsman Jatim

Diskusi malam itu berakhir pukul 22.30. Setelah acara ditutup pun, para peserta masih diskusi dan berbagi kasus satu dengan yang lain.

Keesokan harinya, acara dimulai dengan perkenalan oleh masing-masing peserta. Peserta termuda adalah Yahya Ayash, 17 tahun, dari Komunitas Sahabat Budaya, Jakarta. Setelah itu, Pak Darsono menyampaikan materi langkah dan strategi advokasi disertai dengan diskusi oleh para peserta.

Diskusi studi kasus menjadi acara selanjutnya. Di sini panitia memilih 5 kasus untuk didiskusikan antarpeserta. Lima kasus tersebut adalah:

1.) Kerusakan di Borobudur terutama oleh ulah wisatawan

2.) Pengrusakan Situs Megalitikum di Terjan, Rembang oleh oknum-oknum yang belum diketahui

3.) Pengrusakan Situs Biting, Lumajang, oleh Perumnas dan kengganan Pemkab Lumajang untuk melestarikannya

4.) Penghancuran rumah-rumah kuno di Magelang untuk digantikan dengan ruko

5.) Aktvitas penambangan yang merusak Situs Muara Jambi

Dalam studi kasus yang dibagi dalam 5 kelompok ini para peserta mencoba mengidentifikasi isu dan menetapkan strategi-strategi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hasil diskusi ini kemudian dipresentasikan kepada peserta lainnya dengan difasilitasi oleh Pak Darsono. Pak Darsono kembali mengingatkan pentingnya mensinkronkan isu, langkah-langkah, dan tujuan yang jelas agar kegiatan advokasi bisa dilakukan dengan baik.

13291616461463350327diskusi kasus berkelompok
13291617761695406539Identifikasi isu, pelaku, menentukan langkah-langkah yang diambil, dan tujuan yang diharapkan
13291620801281468128Mas Baskoro dari Rembang Heritage Society menyampaikan hasil diskusi kelompoknya
1329162357532097718Suasana saat peserta lain menyimak hasil disuksi kelompok lain

Kelima kelompok sudah menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Maka acara terakhir adalah simulasi kasus. Pada simulasi kasus ini ada peserta yang menjadi anggota masyarakat, ada yang menjadi aktivis cagar budaya, ada yang berperan menjadi pihak investor dan ada pula yang berperan menjadi pihak pemerintah. Seru loh! Lucu-lucu pula! Gaya para aktor dadakan ini sering mengundang gelak tawa peserta lain.

13291632631270027620simulasi kasus
13291634721496430708Pak Darsono mendampingi peserta simulasi kasus

Bagaimana dengan kota terinta saya, Solo? Sebagai satu-satunya peserta dari Solo, tentunya saya sangat berbangga karena memiliki walikota yang peduli terhadap cagar budaya dan mau mendengarkan aspirasi masyarakat. Contoh terakhir adalah bagaimana Pemkot tidak jadi merobohkan bangunan tua RJ Mangunjayan. Sebelumnya walikota Jokowi hendak merobohkannya untuk dijadikan ruang terbuka hijau, namun keburu didesak komunitas cagar budaya setempat untuk tidak merobohkannya.

Namun demikian, Solo memiliki masalah cagar budaya yang tak kalah pelik dibanding kota lain. Bagaimanakah nasib Sari Petojo? Apakah akan tetap tidak dianggap sebagai cagar budaya oleh tim cagar budaya Jawa Tengah hanya karena tidak estetik? Bagaimana pula nasib Taman Sriwedari, apakah ahli waris mau merelakannya untuk kepentingan masyarakat? Lalu, apa peran pemerintah pusat dalam penyelamatan Museum Radya Pustaka? Apakah pengusaha terkenal Robby Sumampow, yang mengklaim dirinya sebagai pemilik Benteng Vastenburg, akan membangun hotel berbintang di dalam cagar budaya berusia ratusan tahun itu, ataukah pemerintah pusat akan membantu pemkot Solo dalam merebut benteng itu kembali dan menjadikannya sebagai hutan kota dan ruang publik masyarakat Solo? Bagaimanakah nasib rumah-rumah kuno di Jalan Kapten Mulyadi yang menurut rencana Pemkot akan dikepres alias dihancurkan (hanya) demi proyek pelebaran jalan? Untuk isu terakhir ini, saya sangat berharap Jokowi bisa mengurungkan niat Pemkot untuk menghancurkan bangunan kuno di Jalan Kapten Mulyadi tersebut.

Sayang sekali, pelatihan ini hanya berlangsung selama dua hari. Andaikan bisa lebih, tentu lebih banyak ilmu yang bisa didapatkan dan lebih banyak waktu untuk saling mengenal antarpeserta. Meskipun demikian, pelatihan singkat ini membuka wawasan peserta tentang penerapan UU no. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan bagaimana strategi dalam advokasi khususnya ketika berhadapan dengan pejabat pemerintah. Salam Budaya🙂

13291640061144191528Para peserta yang sebagian besar adalah aktivis cagar budaya foto bersamaSumber: http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/14/ketika-para-aktivis-cagar-budaya-bersatu-di-kaliurang/
(diakses 15 Februari 2012)

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s