Permasalahan Kawasan Cagar Budaya Jetis – Yogyakarta

Rekomendasi Sikap Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) tentang rencana Penghancuran Bangunan Warisan Budaya Eks Mess AURI Jalan AM Sangaji Yogyakarta

Kawasan Jetis yang umumnya terletak di sepanjang jalan AM Sangaji Yogyakarta dalam pemetaaan Dinas Kebudayaan Propinsi DIY merupakan salah satu Kawasan Cagar Budaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam sejarahnya, Kawasan Jetis merupakan tinggalan masa kolonial yang pada masanya digunakan sebagai tempat tinggal maupun gedung perkantoran. "Eks Mess AURI"Kawasan Jetis sebagai Kawasan Cagar Budaya adalah pengembangan kawasan pemukiman penduduk dan kantor pemerintahan yang dibangun setelah kawasan Bintaran (dibangun pada abad 19) dan sebelum kawasan Kota Baru (tahun 1925 atau abad 20). Berdasarkan pengetahuan tersebut, maka Kawasan Cagar Budaya Jetis diperkirakan berusia kurang lebih 1 (satu) abad. Dalam buku yang ditulis oleh Darmo Sugito dkk yang berjudul “Kota Jogjakarta 200 Tahun” pada tanggal 7 Oktober 1956 ditegaskan bahwa perkampungan Indis (perpaduan antara arsitektur eropa dan lokal) berawal dari Loji Kecil yang meluas ke jalan Secodiningratan (Kampemen Straat), lalu meluas ke wilayah Bintaran, Jetis, dan terakhir ke wilayah Kota Baru yang dalam perkembangannya sangat menentukan perkembangan kota Jogjakarta di kemudian hari.
========

Balai Pelestarian dan peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta dalam Laporan Monitoring bulan Maret 2010 terhadap bangunan di Jalan A.M. Sangaji Nomor 8 dan 10 (namun dalam ijin yang diberikan oleh Dinas Perijinan Kota Yogyakarta, alamat yang tertera berbeda yaitu Jalan A.M. Sangaji Nomor 16 dan 18) menyimpulkan bahwa bangunan eks mess AURI tersebut merupakan Bangunan Cagar Budaya yang berada dalam Kawasan Cagar Budaya Jetis. Hal ini didasarkan pada arsitektur bangunannya yang menunjukkan ciri-ciri bangunan indis sebagaimana terdapat cirinya sangat mirip dengan bangunan indis lainnya yang ada di wilayah sekitarnya. Beberapa ciri bangunan indis diantaranya yaitu tinggi dan besar, halaman luas, langit-langit tinggi, dan teras terbuka. Terbentuknya permukiman di kawasan Jetis akibat adanya aktivitas warga Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang terus meningkat. Tugu Paal Putih merupakan titik pangkal keruangan Kawasan Cagar Budaya Jetis ke arah utara sepanjang jalan AM Sangaji – Yogyakarta.

Aturan main dalam pelestarian cagar budaya di Indonesia merujuk pada Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sedangkan di wilayah Yogyakarta terdapat Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 11 tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya. Berdasarkan Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang dimaksud kawasan cagar budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas. Secara lebih spesifik, dalam pasal 1 angka 6 Perda Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 11 tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya disebutkan bahwa:“Kawasan Cagar Budaya yang selanjutnya disingkat KCB adalah kawasan yang melingkupi aglomerasi wilayah yang memiliki benda atau bangunan cagar budaya dan mempunyai karakteristik serta kesamaan latar belakang budaya dalam batas geografis yang ditentukan dengan deliniasi fisik dan non fisik”.

Dalam pelestarian dan pengelolaan Cagar Budaya, Pasal 26 Perda DIY nomor 11 tahun 2005 lebih lanjut mengatakan bahwa: “Setiap pelaksanaan pembangunan bangunan di dalam lingkungan KCB, terutama yang berkaitan dengan pembangunan baru, penambahan, pergeseran, perubahan dan/atau pembongkaran, harus sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan syarat-syarat teknis yang berlaku”. Hal ini pulalah yang telah diatur dalam Undang-Undang Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010, pada pasal 83 ayat (1) dijelaskan bahwa “Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan: a). ciri asli dan/atau muka Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya; dan/atau b). ciri asli lanskap budaya dan/atau permukaan tanah Situs Cagar Budaya atau Kawasan Cagar Budaya sebelum dilakukan adaptasi.” Selanjutnya pada ayat (2) dikatakan bahwa “Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan: a). mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya; b). menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan; c). mengubah susunan ruang secara terbatas; dan/atau d). mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya.”

Berdasarkan kebijakan dan aturan yang telah disampaikan di atas, maka bangunan eks Mess AURI yang terletak di Jalan AM Sangaji no. 8 dan 10 HARUS tetap dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya sebagai Bangunan Cagar Budaya di Kawasan Cagar Budaya Jetis. Pelestarian Cagar Budaya menurut Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya dimaksudkan untuk membangun karakter dan memperkuat jatidiri bangsa. Pemahaman tersebut diperkuat melalui aturan yang bersifat lokal yaitu Perda DIY nomor 11 tahun 2005 point menimbang huruf b dan c, dikatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki entitas (tata pemerintahan berbasis kultural), sekaligus identitas lokal berupa nilai religi, nilai spiritual, nilai filosofis, nilai estetika, nilai perjuangan, nilai kesejarahan, dan nilai budaya yang harus dijaga kelestariannya; dan keberadaan warisan budaya dalam bentuk Kawasan Cagar Budaya (KCB) dan Benda Cagar Budaya (BCB) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan kekayaan kultural yang mengandung nilai-nilai kearifan budaya lokal sebagai dasar pembangunan kepribadian, pembentukan jati diri, serta benteng ketahanan sosial budaya masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setiap penghancuran warisan budaya di wilayah DIY tentu ini akan semakin menegasikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Pusat Kebudayaan. Oleh karena itu, pengarusutamaan pelestarian Warisan Budaya serta kewajiban semua pihak ikut serta dalam melestarikan warisan budaya, sudah saatnya didorong menjadi bagian integral dari pembangunan. Hal ini merupakan tantangan sekaligus menekankan kepada kita bersama untuk selalu menggunakan daya pikir, nalar/kreatifitas anak bangsa untuk memanfaatkan potensi atau sumberdaya yang ada serta menyempurnakannya menjadi satu karya yang paripurna, dan bukan saling meniadakan melalui praktek-praktek penghancuran bangunan kuno yang memiliki nilai tinggi dan arsitektur yang khas. Mudah-mudahan tindakan destruktif ini tidak ditiru oleh anak-cucu kita. Untuk itu, MADYA menyatakan beberapa rekomendasi sikap sebagai berikut.
Menghentikan pembangunan Hotel Pop Haris dilahan Bangunan Cagar Budaya eks Mess AURI Jalan A.M. Sangaji no. 8 dan 10 sampai adanya langkah kongkrit untuk melestarikan Bangunan Cagar Budaya tersebut.
Mencabut surat rekomendasi Dinas Kebudayaan provinsi DIY Nomor 646/4853 tertanggal 29 November 2010 tentang Rencana Pembangunan Bangunan Baru di Jl. AM. Sangaji No.16 dan 18 Yogyakarta yang didasarkan pada kajian yang dilakukan oleh Dewan Pertimbangan dan Pelestarian Warisan Budaya (DP2WB) Provinsi DIY. Hal ini harus segera dilakukan karena rekomendasi tersebut sangat bertentangan dengan prinsip pelestarian sebagaimana termaktub dalam Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya maupun Perda DIY nomor 11 tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya.
Meminta walikota menegur dan mendesak pencabutan Surat Keputusan Kepala Dinas Perijinan Kota Yogyakarta Nomor: (0155/JT/2011)/(0948/01) tentang Pemberian Ijin Membangun Bangun-Bangunan (IMBB) tertanggal 17 Februari 2011 dan melakukan revisi terhadap IMBB yang diharapkan kedepannya lebih menitik-tekankan pada pelestarian Bangunan Cagar Budaya tersebut.
Meminta Gubernur DIY menggunakan kewenangannya untuk menyikapi polemik dalam pelestarian warisan budaya di wilayah DIY sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
=====

Kami masih memiliki harapan bahwa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik, berwibawa, dan berkarakter, serta memiliki jati diri, tetaplah berangkat dari pembangunan kebudayaan dan bukan semata pembangunan ekonomi yang tanpa nilai (budaya). Pernyataan ini relevan dengan pidato yang selalu disampaikan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam setiap kesempatan yaitu pentingnya mengedepankan KEKITAAN dan bukan KEAKUAN. Dalam konteks pelestarian warisan budaya pemaknaan tentang KEKITAAN tidak semata-mata pemahaman KITA di saat ini, tetapi adalah sebagai sebuah proses perjalanan sejarah KITA di masa lalu maupun KITA sebagai bagian dari masa depan. Peran inilah yang harus dipastikan berjalan dengan baik dalam mewujudkan sebuah cita-cita masyarakat Indonesia yang berkarakter dan memiliki jati diri. Salam Budaya.

Yogyakarta, 07 Juli 2011
Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA)

ttd

Jhohannes Marbun
Koordinator

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Permasalahan Kawasan Cagar Budaya Jetis – Yogyakarta

  1. Octa DVian berkata:

    “Kawasan Jetis sebagai Kawasan Cagar Budaya adalah pengembangan kawasan pemukiman penduduk dan kantor pemerintahan yang dibangun setelah kawasan Bintaran (dibangun pada abad 19) dan sebelum kawasan Kota Baru (tahun 1925 atau abad 20). ”
    maaf, saya mahasiswa yang sedang membuat karya tulis mengenai kawasan kotabaru dan jetis. Apakah anda memiliki literatur mengenai pengembangan kawasan pemukiman jetis. Karena saya sudah mencari di BP3, tapi penjelasan mengenai kawasan Jetis sangat sedikit.
    terima kasih…….

    Suka

  2. joemarbun berkata:

    Kalau saya hanya punya kasus-kasusnya saja. itu juga tidak banyak. Boleh juga melacaknya ke perpustakaan Arkeologi Fak. Ilmu Budaya UGM. Sepertinya disana sedikit lebih lengkap dibanding punya saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s