Malioboro Kehilangan Estetika: Ditopengi Papan Iklan

Kawasan Malioboro sebagai ikon Kota Jogja, dinilai sudah kehilangan estetika. Ini, tak lepas dari tiadanya kebijakan khusus dari Pemkot Jogja maupun Pemprov DIJ melindungi 50 bangunan tua yang tercatat sebagai benda cagar budaya (BCB) dan benda warisan budaya (BWB).

Hampir semua bangunan itu, kini telah tertutup dengan papan-papan iklan berukuran besar.
’’Papan iklan yang banyak berdiri di depan bangunan telah menopengi wajah asli Malioboro yang sebenarnya,’’ sesal Koordinator LSM Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Joe Marbun dalam Seminar ’’Wajah Malioboro’’ memperingati Hari Purbakala di Jogja Library Centre Malioboro, kemarin (14/6).
Marbun menambahkan, pemerintah, dalam hal ini pemkot dan pemprov, sebenarnya bisa mengatur soal reklame tersebut. Kedua regulator tersebut, memiliki kewajiban untuk melindungi nilai-nilai asli yang ada di Malioboro. ’’Dalam UU Cagar Budaya No. 11 tahun 2010, telah jelas diatur,’’ katanya.
Marbun yakin, jika ’’topeng’’ yang selama ini menutupi wajah Malioboro terbuka, pusat kota tersebut secara estetika sangat unik. Sebab dalam perkembangannya, bangunan yang berdiri di Malioboro dipengaruhi gaya arsitektur China, Jawa, dan Indis. ’’Penataan ulang reklame yang berdiri di sepanjang Malioboro sampai titik nol kilometer harus diatur kembali,’’ sarannya.
Senada dengan Marbun, pengamat Komunikasi Visual Sumbo Tinarbuko turut menyesalkan munculnya ide Shop Sign yang menjadi celah pengiklan. Ide tersebut, meski menuliskan nama toko tempat iklan, menurutnta malah membuat Malioboro kian jelas sebagai sampah visual. ’’Seharusnya memang ada goodwill dari pemkot untuk mengantisipasi sampah visual ini,’’ kata Sumbo yang dihubungi secara terpisah.
Pemkot, lanjut Sumbo, sebenarnya memiliki kewenangan penuh mengatur reklame yang memenuhi sepanjang Malioboro. ’’Pemkot bisa mengatur hal itu dalam peraturan daerah atau wali kota,’’ sambungnya.
Dia pun menyarankan Wali Kota Herry Zudianto untuk menginstruksikan kepada seluruh dinas terkait mengembalikan nilai Malioboro. ’’Sebelum Pak Herry habis masa jabatannya, ada penanganan masalah penataan Malioboro dengan serius,’’ sarannya.
Kepala Seksi Pembinaan dan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja Widiastuti mengemukakan, di sepanjang Malioboro, ada lebih dari 50 bangunan tua. Tapi sampai saat ini, hanya ada 10 yang masih benar-benar masih memperlihatkan fasad atau muka bangunan aslinya. ’’Selebihnya, wajah bangunan itu sudah tertutup papan iklan dan baliho berukuran besar,’’ kata Widiastuti.
Sejumlah bangunan yang masih memperlihatkan fasad asli adalah Apotek Kimia Farma, bangunan pertama di ujung utara Jalan Malioboro atau sekarang menjadi gudang, dan Jogja Library Centre. ’’Padahal, besar baliho nama-nama toko tersebut seharusnya disesuaikan dengan fasad bangunan untuk mempercantik,’’ sambungnya.
Dia menambahkan, seharusnya, kepentingan ekonomi yang berada di sepanjang Malioboro bisa sejalan dengan kepentingan budaya. Apalagi, Malioboro masih menjadi tujuan utama wisata di Kota Jogja. ’’Kami berharap, di masa yang akan datang semua baliho nama toko atau jenis iklan lain tersebut tidak lagi menutupi wajah Malioboro,’’ tuturnya.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Jogja Eko Suryo Maharso mengatakan, pemerintah sudah menerapkan aturan mengenai pemasangan papan iklan atau reklame. Jadi, untuk menghilangkan kesan perlombaan iklan, pihaknya harus memiliki aturan yang baru. ’’Atau minimal, jika di kawasan Malioboro memerlukan konsep baru dalam pemasangan papan iklannya, tinggal mendiskusikannya dengan pakar, pemerintah, dan pelaku usaha di kawasan itu,’’ usulnya
Eko mengatakan, penataan sebuah kawasan, khususnya di Malioboro sudah mereka lakukan. Tapi, hal tersebut bukan berarti mengembalikan Malioboro seperti masa lalu. ’’Tapi tetap mengikuti perkembangan zaman asalkan tidak terlepas dari roh kawasan tersebut,’’ jelasnya. (eri)

Sumber: Radar Jogja

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s