Koleksi Museum Tak Terlacak

YOGYAKARTA,KOMPAS – Hingga kini, pelacakan hilangnya puluhan koleksi Museum Sonobudoyo yang bernilai sejarah tinggi belum jelas. Tim evaluasi yang rencananya akan dibentuk Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga belum diwujudkan.

”Kami telah berkomunikasi dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X dan Dinas Kebudayaan DIY. Sultan kemudian merekomendasikan pembentukan tim evaluasi kasus hilangnya koleksi Museum Sonobudoyo. Namun, sampai sekarang surat keputusan tentang pembentukan tim itu belum ada,” kata Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya Joe Marbun di sela-sela aksi teatrikal keprihatinan hilangnya koleksi Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, Rabu (6/4).

Menurut Marbun, buruknya standar pengamanan museum turut menyebabkan terjadinya kasus yang menggegerkan jagad kepurbakalaan itu. Hilangnya benda-benda warisan budaya koleksi Museum Sonobudoyo dinilai bukan sekadar kasus pencurian biasa.

”Muncul kejanggalan-kejanggalan di lapangan, seperti matinya kamera CCTV dan alarm yang terjadi lama sebelum kasus itu muncul. Padahal, perangkat-perangkat itu adalah syarat utama pengamanan museum,” kata dia.

Hilangnya 87 koleksi emas, yang diduga berumur ratusan tahun itu terjadi sejak pertengahan Agustus 2010 lalu. Namun, hingga kini perkembangan penelusuran kasus tersebut belum juga menunjukkan titik terang.

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya serta pemerhati benda cagar budaya sangat menyesalkan lambannya penanganan kasus ini. Kekesalan dilampiaskan dalam bentuk aksi teatrikal yang digelar mulai dari depan Gedung Agung hingga ke depan Museum Sonobudoyo.

Dalam aksinya, para aktivis Masyarakat Advokasi Warisan Budaya membagikan selebaran gambar topeng-topeng koleksi Sonobudoyo. Mereka juga berorasi mengkritik lambatnya penanganan kasus pencurian itu.

Belum jelas

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Djoko Dwiyanto mengatakan, hingga kini pihaknya belum mendapat laporan polisi terkait hasil akhir penelusuran barang-barang koleksi museum yang hilang. Pemerintah Provinsi DIY hanya bisa mengantisipasi kejadian serupa dengan melengkapi sistem pengamanan museum.

Saat ini di Museum Sonobudoyo sudah dilengkapi sistem pengamanan baru berupa kamera pemantau (CCTV) dan alarm baru otomatis. Seluruh peralatan tersebut baru dan mampu menjangkau seluruh areal museum yang berada di utara Alun-alun Utara.

”Kami juga memperkuat pengamanan dengan menambah enam personel petugas keamanan. Semua pegawai museum juga kami minta piket secara bergilir selama 24 jam penuh,” ujarnya. Saat hilang, museum tidak punya penjaga yang khusus berjagajaga.

Belajar dari kasus itu, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya meminta pemerintah memberi sanksi administrasi kepada penanggung jawab Museum Sonobudoyo. Sanksi diperlukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik karena pembiayaan museum menggunakan dana masyarakat. (ABK)

Sumber: Kompas CETAK (http://cetak.kompas.com/read/2011/04/07/03202571/koleksi.museum.tak.terlacak)

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s