Missionaris dan Perubahan Budaya Masyarakat Minahasa di Balik Waruga

Missionaris dan Perubahan Budaya Masyarakat Minahasa di Balik Waruga

Tradisi penguburan menggunakan waruga di Minahasa mulai ditinggalkan pada sekitar pertengahan abad ke-19 ditandai dengan munculnya sistem penguburan dalam tanah yang diperkenalkan oleh bangsa Belanda. Perubahan ini terjadi bersamaan dengan diperkenalkan dan semakin kuatnya agama Kristen di Minahasa. Namun, harus dicatat bahwa sampai menjelang berakhirnya kepercayaan terhadap roh leluhur dan makin kuatnya penganut agama Kristen, waruga masih tetap digunakan. Pada tahapan ini, penggunaan waruga bukan lagi dimaksudkan sebagai bentuk pengkultusan terhadap roh para arwah leluhur/nenek moyang, tetapi penggunaan waruga pada saat itu lebih merupakan sebagai bentuk apresiasi orang Minahasa terhadap budaya lamanya.
Dari proses perubahan yang telah dikemukakan di bagian terdahulu, jelas bahwa kepentingan missionaris untuk menyebarkan pesan Injil di daerah Minahasa merupakan faktor utama penyebab hilangnya tradisi penguburan menggunakan waruga. Cara yang dipakai untuk melakukan penginjilan kepada masyarakat Minahasa memang dilakukan secara tidak langsung. Penyebaran Injil dilakukan melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Missionaris mengajarkan ketrampilan bertukang, menjahit, dan jenis ketrampilan praktis lain yang sangat dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat ketika itu. Di samping itu, missionaris juga mengajar anak-anak Minahasa untuk mengerti membaca dan menulis. Peserta didik banyak yang kemudian tinggal di tempat missionaris untuk dididik, bahkan diberi uang saku dan pakaian. Melalui cara-cara seperti itu, agama Kristen mulai disebarkan dan ditanamkan kepada generasi muda Minahasa. Dengan demikian, ketika generasi tua semakin kurang perannya dalam masyarakat, dan generasi muda yang telah di-kristen-kan menjadi berperan, maka agama Kristen pun menjadi lebih dominan dibanding dengan kepercayaan asli Minahasa. Sebagai akibatnya, penguburan dalam waruga juga makin lama tidak lagi digunakan.
Selain itu, daerah Minahasa yang sering kali dilanda wabah penyakit menjadi peluang yang baik bagi para missionaris untuk memasukkan agama Kristen, melalui bidang kesehatan. Para missionaris dari NZG memperkenalkan pengobatan modern, di samping pemahaman akan lingkungan yang bersih. Pengobatan yang selama ini dilakukan secara tradisional, disertai dengan ritual-ritual penyembuhan yang dipimpin oleh seorang walian, perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan beralih ke pengobatan modern, karena tingkat keberhasilan penyembuhannya yang tinggi. Melalui cara seperti ini, kepercayaan terhadap walian menjadi berkurang, dan beralih menuruti pesan-pesan yang disampaikan oleh missionaris terhadap mereka.
Pemahaman lingkungan yang bersih sebagai bagian dari strategi penginjilan para missionaris di bidang kesehatan dalam prakteknya juga diterapkan. Penguburan menggunakan waruga merupakan salah satu penyebab timbulnya wabah penyakit yang diakibatkan oleh bau busuk yang keluar dari dalam waruga. Untuk mengatisipasi hal ini pemerintah membuat kebijakan memindahkan waruga dalam satu lokasi tertentu di luar lokasi pemukiman penduduk. Di samping itu, orang Minahasa mulai menyadari bahwa penguburan menggunakan waruga berakibat tidak baik bagi kesehatan mereka, sehingga orang Minahasa meninggalkan tradisi tersebut dan beralih ke sistem penguburan dalam tanah yang diperkenalkan missionaris.
Faktor lain yang membantu kaum missionaris untuk menyiarkan agama Kristen adalah daerah Minahasa yang dikelilingi oleh pegunungan yang aktif . Daerah ini telah beberapa kali mengalami peristiwa gempa bumi. Gempa bumi dan wabah penyakit yang terjadi pada tahun 1854 telah merenggut nyawa sebagian penduduk Minahasa tentunya menyisakan kesedihan tersendiri bagi masyarakatnya, dan banyak orang Minahasa yang mengalami trauma akibat kejadian itu. Dalam kondisi yang demikian, kehadiran para missionaries menjadi sangat penting. Karena pada saat itu, missionaris dapat memberikan pertolongan dan bantuan baik medis maupun psikologis. Dengan cara itu, mereka juga dapat menanamkan ajaran Kristen. Jenasah yang sedemikian banyak tidak lagi efektif dikuburkan dalam waruga, tetapi langsung dikubur ke dalam tanah.
Kehadiran pemerintah kolonial Belanda di Minahasa dengan model pemerintahan yang diterapkannya juga ikut berperan secara tidak langsung dalam proses tidak berlanjutnya penggunaan waruga sebagai wadah kubur. Sistem pemerintahan kolonial Belanda telah merusak tatanan sistem pemerintahan tradisional di Minahasa yang berpangkal pada kewibawaan pemimpin tradisional dan kebersamaan di antara masyarakatnya. Pemerintah kolonial telah memisahkan para pemimpin itu dari rakyatnya, dengan cara mengangkat para tokoh masyarakat Minahasa menjadi kepala daerah dan diberi fasilitas serta gaji. Pada gilirannya, para pemimpin tersebut menjadi loyal kepada pemerintah kolonial dan mulai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengayomi masyarakat. Akhirnya, orang Minahasa juga tidak lagi menaruh kepercayaan pada pemimpin mereka. Hal inilah yang kemudian memudahkan pemerintah Belanda untuk melaksanakan kebijakan-kebijakannya yang sangat berpengaruh terhadap proses perubahan budaya di Minahasa. Selain itu, beberapa kali pemerintahan kolonial melakukan perombakan wilayah menjadi sistem pemerintahan distrik. Penerapan kebijakan ini akan memperlemah kesatuan di antara orang Minahasa. Kondisi seperti itulah yang memungkinkan pengaruh budaya Eropa termasuk agama Kristen menjadi semakin mudah tertanam dalam kehidupan masyarakat Minahasa.
Perubahan unsur budaya Minahasa juga terwujud dalam bentuk perubahan tradisi penguburan. Tradisi penguburan menggunakan waruga yang dilatarbelakangi kepercayaan Alifuru lambat laun berubah dan beralih ke tradisi penguburan dalam tanah yang dilatarbelakangi konsep kepercayaan dalam agama Kristen. Perubahan seperti itu memang tidak terjadi seketika, melainkan secara bertahap. Pada awal masuk dan berkembangnya agama Kristen, waruga masih digunakan. Penguburan dengan waruga ditinggalkan sama sekali pada awal abad ke-20.
Proses perubahan bertahap seperti itu tercermin dari perubahan pola hias waruga menjelang masa akhir penggunaannya. Hiasan-hiasan motif manusia pada waruga tradisional yang dibuat pada masa sebelum kedatangan pengaruh Eropa cenderung dihias dengan motif-motif yang mengandung makna magis, termasuk motif manusia kangkang dengan penonjolan genitalia. Pada masa peralihan atau awal masuknya bangsa Eropa (Spanyol, Portugis, dan Belanda), waruga dihias dengan motif manusia juga tetapi tidak lagi ditonjolkan genitalianya. Motif manusia seringkali digambarkan dengan menggunakan penutup genitalia sederhana atau ditutup daun-daunan. Pada tahap berikutnya, ketika pengaruh Eropa makin kuat, waruga dihias dengan motif manusia dengan pakaian Eropa. Sementara itu, perkembangan akhir penguburan dengan waruga terjadi ketika pengaruh agama Kristen semakin kuat, dan tradisi tulisan menjadi bagian dari pengetahuan baru masyarakat Minahasa. Tradisi tulisan ini juga menghiasi kubur waruga. Waruga dipahat dengan tulisan nama, waktu kelahiran dan waktu kematian orang yang meninggal. Nama-nama itu menunjukkan bahwa orang yang meninggal telah beragama Kristen. Karena itu, dapat ditunjukkan bahwa perubahan kepercayaan orang Minahasa dari kepercayaan Alifuru ke agama Kristen tercermin pula dalam budaya materinya, baik itu berupa perubahan pola hias waruga, maupun perubahan dari tradisi penguburan menggunakan waruga ke tradisi penguburan dalam tanah.

{Tulisan ini merupakan kesimpulan dari penelitian skripsi Jhohannes Marbun untuk memperoleh gelar sarjana pada Ilmu Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta pada tanggal 22 November 2005 dengan judul: Faktor Penyebab Hilangnya Tradisi Penguburan
Dengan Waruga di Minahasa (Sulawesi Utara)}

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s