Gempa Bumi di Sumatera Barat Rusak Benda/ Bangunan Cagar Budaya (BCB)

Akibat Gempa, Rumah Gadang Cagar Budaya Pariaman Rusak Parah

Kapanlagi.com – Sebanyak tiga Rumah Gadang yang selama ini menjadi bagian dari cagar budaya Kota Pariaman, Sumatera Barat, rusak parah akibat gempa berkekuatan 7,6 skala richter yang mengguncang wilayah itu Rabu (30/9) lalu.
“Hasil Tim Survei Kerusakan Benda Cagar Budaya Pasca-gempa Sumbar pada Selasa (6/10) menyebutkan sejumlah rumah gadang cagar budaya di Pariaman rusak akibat gempa,” kata Koordinator Crisis Center Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Dharma, di Jakarta, Selasa (6/10).
Kerugian yang ditanggung akibat kerusakan itu ditaksir mencapai angka Rp1 miliar di luar kerugian imaterial mengingat benda cagar budaya tersebut merupakan bagian dari aset bangsa yang tidak ternilai harganya.
Tim Survei Kerusakan Benda Cagar Budaya Pasca-gempa Sumbar pada Selasa (6/10) melaporkan, tiga rumah gadang yang rusak tersebut masing-masing rumah gadang Panjang (rusak berat), rumah Induk (rusak ringan), dan rumah Tinggi (rusak berat).
“Rumah adat sebagai bangunan cagar budaya Kota Pariaman ini adalah milik pribadi dan menjadi salah satu daya tarik wisata,” katanya.
Sebelumnya, hasil tim survei menemukan bahwa bangungan cagar budaya di Kota Padang umumnya dalam kondisi rusak berat. Di lima kawasan Kota Padang yakni Batang Arau, Pasar Mudi, Pasar Malintang, dan Pasar Gadang kerusakan bangunan BCB rata-rata sekitar 80%. Sedangkan di kawasan Pasar Batimpuk, bangunan BCB yang rusak hanya sebagian.
Kelima kawasan yang disurvei tersebut merupakan daerah yang mempunyai tinggalan bangunan BCB di masa Kolonial Belanda sekitar 50 unit bangunan. Umumnya, kerusakan terjadi pada struktur bangunan. (kpl/bar)

(http://www.kapanlagi.com)

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s