Pandangan terhadap Iklan Tari Pendet Dalam Promosi Pariwisata Malaysia

PANDANGAN MASYARAKAT ADVOKASI WARISAN BUDAYA (MADYA)
TERHADAP IKLAN TARI PENDET DALAM PROMOSI PARIWISATA MALAYSIA

(Catatan: Deretan Panjang Klaim Asing Terhadap Warisan Budaya Bangsa)

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan pegiat pelestari Warisan Budaya Bangsa, setidaknya ada 32 warisan budaya bangsa yang di klaim oleh pihak asing (sumber: http://budaya-indonesia.org/iaci/Data_Klaim_Negara_Lain_Atas_Budaya_Indonesia), termasuk Tari Pendet Bali baru-baru ini. Dari ke-32 warisan budaya tersebut, 21 di antaranya diklaim oleh Malaysia. Sebut saja naskah-naskah kuno (dari riau, sumatera barat, sulawesi selatan, dan sulawesi tenggara); lagu-lagu daerah (rasa sayang’e –Maluku, kakak tua – Maluku, soleram – Riau, injit-injit semut – Jambi, jali-jali – Betawi, anak kambing saya – Nusa Tenggara, indang sungai garinggiang – Sumatera Barat); tari-tarian (Reog – Ponorogo, tari piring – Sumatera Barat, kuda lumping – Jawa Timur); alat musik (gamelan – Jawa dan angklung); makanan (rendang – Padang); badik tumbuk lada dari Kepulauan Riau, Deli, dan Siak (alat perang); Kain Ulos dari tanah Batak beserta kain motif batik parang dari Yogyakarta. Dan yang terakhir ini adalah klaim tari pendet dari Bali sebagai kekayaan pariwisata Malaysia. Klaim yang dilakukan oleh Malaysia adalah sebagai bagian untuk mengukuhkan Slogan Mereka ”Truly Asia”.
Sungguh ironis, ketika banyak warisan budaya bangsa di Indonesia dibiarkan terlantar, dibongkar, dihancurkan, dan diperjual-belikan secara illegal dengan alasan kegiatan pembangunan dan peningkatan ekonomi negara. Bahkan untuk kegiatan pengembangan budaya baik yang berwujud (tangiable) maupun yang tidak berwujud (intangiable) seperti kesenian oleh masyarakat yang diajukan ke Pemerintah Pusat ataupun Daerah selalu dijawab dengan ketiadaan dana. Tetapi Malaysia sebaliknya, melalui warisan budaya dari negara lain, mereka rela mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membiayai iklan promosi pariwisata di Discovery Channel dengan harapan meraup keuntungan ekonomi yang sangat besar.
Hal ini menyadarkan kepada kita semua, ternyata warisan budaya sangat penting bagi sebuah negara, tidak hanya penting bagi pendidikan, ilmu pengetahuan interdisipliner, sebagai identitas bangsa, tetapi juga dapat mendatangkan nilai ekonomi bagi negara, tanpa harus membongkar, menghancurkan, memperjual-belikan secara illegal. Untuk itu, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) menyatakan beberapa sikap, diantaranya:
1. Mendukung Pemerintah RI untuk melayangkan nota protes dan mengusut secara tuntas permasalahan klaim Malaysia terhadap Tari Pendet – Bali yang merupakan Warisan Budaya bangsa, termasuk didalamnya melakukan pengusutan secara tuntas klaim-klam warisan budaya lainnya oleh negara lain, dan menyampaikan perkembangannya kepada publik.
2. Mendesak Pemerintah RI segera membuat Mainstreamin (Pengarusutamaan) Pengelolaan Warisan Budaya dalam konteks maupun perspektif kebijakan pembangunan nasional. Dan juga mengenalkan warisan budaya bangsa dalam bidang pendidikan sejak usia dini.
3. Pemerintah RI dan Pemerintah Daerah bersama masyarakat melakukan inventarisasi dan dokumentasi sebagai bagian dari upaya melindungi, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya bangsanya. Hal ini juga bermanfaat sebagai data untuk menepis klaim dari bangsa lain terhadap kekayaan budaya bangsa.
4. Mendorong pemerintah untuk melakukan penguatan terhadap komunitas-komunitas budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat dengan mengalokasikan anggaran yang memadai.
5. Mendesak Pemerintah untuk membentuk Pusat Kebudayaan Nasional yang berkoordinasi dengan pusat-pusat kebudayaan yang ada di daerah, dalam mengelola, mengembangkan, dan meneliti kekayaan warisan budaya dari sekitar 360 lebih suku bangsa di Indonesia, serta memublikasikan dan menginformasikannya, baik di dalam maupun luar negeri.
Demikian sikap ini kami sampaikan sebagai bahan masukan kepada seluruh pemangku kepentingan. Sekian dan terima kasih.

Salam Budaya,
Yogyakarta, 28 Agustus 2009
Koordinator MADYA
ttd
Joe Marbun
KP: + 6281328423630
(Peserta Kongres Kebudayaan Nasional tahun 2003 di Bukit Tinggi, berada di Komisi Pembentukan Pusat Kebudayaan Indonesia)

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pandangan terhadap Iklan Tari Pendet Dalam Promosi Pariwisata Malaysia

  1. dianacakes berkata:

    Qt semua sangat berharap yg terbaik u/bangsa,,,
    salam kenal,,,klo ada wkt maen2 kblogQ ya,,,
    http://www.dianacakes.wordpress.com
    aq tnggu kdatangannya n’comment’a.Ok,,,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s