Kesadaran Publik Selamatkan Warisan Budaya Meningkat

Presentasi Memperingati Hari Purbakala ke-96 Tahun 2009 di publikasikan oleh http://www.kompas.com

Kesadaran Publik Selamatkan Warisan Budaya Meningkat
Sabtu, 13 Juni 2009 | 21:53 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Kesadaran publik untuk ikut menyelamatkan warisan budaya akhir-akhir ini meningkat sehingga kegiatan yang diduga mengancam kelestarian warisan budaya dapat diantisipasi dan dicegah.

“Hal itu sungguh menggembirakan, meskipun didahului dengan tumbal perusakan, pencurian, bahkan pemalsuan terhadap benda ataupun situs warisan budaya,” kata Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Johannes Marbun di Yogyakarta, Sabtu.

Kegiatan yang diduga mengancam kelestarian warisan budaya antara lain kasus perusakan situs Trowulan dengan Pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Mojokerto, Jawa Timur yang mencuat pada awal Januari 2009.

Selain itu, rencana pendirian pabrik Semen Gresik di Pegunungan Karst Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang hingga kini masih menjadi polemik.

“Kasus tersebut sedikit dari banyak kasus yang tidak semuanya mencuat ke publik sepanjang tahun-tahun sebelumnya sampai awal 2009,” katanya.

Ia mengatakan, hal itu sangat menyedihkan karena warisan budaya adalah sebuah perwujudan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki nenek moyang.

Dalam sebuah warisan budaya, tersirat ide, gagasan, serta tidak jarang juga mencerminkan perilaku budaya pada masanya.

“Oleh karena itu, budaya sering dikatakan sebagai cermin watak dan kepribadian bangsa,” katanya.

Sehubungan dengan hal itu, Hari Purbakala tentunya merupakan momentum penting merefleksikan kembali sejauh mana penghargaan bangsa ini terhadap budaya yang ada dan hidup berkembang sejalan dengan perkembangan zaman.

“Semua itu sejalan dengan program Madya sebagai sebuah organisasi yang intensif melakukan pengawasan terhadap upaya pengelolaan warisan budaya yang ada di tanah air,” katanya.

Sumber : Ant

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s