Madya dan UGM Gelar Jajah Nagari di Magelang

Madya dan UGM Gelar Jajah Nagari di Magelang
15 Agustus 2009 | 14:37 wib | Daerah

Yogyakarta, CyberNews. Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) bekerjasama dengan Mahasiswa KKN PPM UGM Unit 100 dan SD Negeri 01 Salam – Muntilan, maupun masyarakat Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang menggelar kegiatan JAJAH NAGARI pada tanggal 14 Agustus 2009.

“JAJAH NAGARI merupakan bahasa yang diambil dari bahasa Sanksekerta yang berarti menjelajah negeri, tetapi juga merupakan singkatan dari jalan-jalan jelajah Nagari Losari. Keunikan dari acara ini adalah bahwa peserta anak SD mencoba mendokumentasikan secara tertulis dengan menggunakan sandi rumput dan sandi kotak, serta semaphore yang biasanya selalu digunakan dalam kegiatan pramuka,” ungkap Koordinator MADYA Joe Marbun dalam rilisnya ke redaksi SM CyberNews, Sabtu.
Dijelaskan, kegiatan ini diawali dengan mendengarkan pemaparan teknis kegiatan, dan kemudian menuju pos satu yang kemudian peserta menyampaikan pengalaman tentang potensi lingkungan yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan. Di pos dua, peserta mencoba mengamati candi Losari, dengan melihat hal-hal unik dari bangunan tersebut maupun lingkungan di sekitar candi.
Pada pos tiga, peserta mendapatkan penjelasan tentang sejarah penemuan candi, prosedur pelaporan penemuan candi, dan mencoba menjelaskan detail tentang candi. Kemudian pos empat di Joglo Lawas, peserta menceritakan pengalaman yang mereka dapatkan di pos tiga. Dan di Pos lima, diadakan kuis dan pembagian hadiah.
Dusun Losari, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang – Jawa Tengah (di Jalan Magelang, perbatasan antara Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Magelang) diambil sebagai tempat kegiatan dengan pertimbangan bahwa dusun Losari merupakan salah satu desa yang memiliki temuan Benda Cagar Budaya (BCB), yaitu Candi Losari pada tanggal 11 Mei 2004 oleh salah seorang warga bernama Muhammad Badri saat menggali lubang untuk saluran air irigasi yang akan dibagi-bagikan ke sawah warga lain di kebun salak miliknya. Candi Losari merupakan bangunan kuna peninggalan abad ke-9 Masehi yang bercorak kerajaan Hindu.
Penemuan candi ini merupakan salah satu teladan yang dapat diikuti warga masyarakat lain di seluruh Indonesia bagaimana memperlakukan BCB temuannya, khususnya kader-kader Pramuka, yang bersentuhan langsung dengan kegiatan jelajah alam dan missi kemanusiaan. Harapannya dengan melibatkan kader-kader Pramuka, upaya pelestarian dan penyelamatan warisan budaya menjadi lebih nyata dan menyentuh ke masyarakat.
Selama ini, banyak masyarakat kita yang bingung ketika menemukan candi ataupun temuan benda cagar budaya lainnya. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi di masyarakat. Seharusnya ketika benda ditemukan, masyarakat dapat melaporkan temuannya ke perangkat desa setempat dan atau disampaikan ke Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3).
Menurut Marbun warisan budaya yang terdiri dari warisan budaya berwujud (tangible) seperti candi, bangunan kuno, arca, patung dan yang lainnya, serta warisan budaya tidak berwujud (intangible) seperti kesenian merupakan hasil dari olah cipta, rasa, dan karsa nenek moyang suku-suku bangsa di seluruh penjuru tanah air. Warisan budaya merupakan bentuk kekayaan yang merupakan ciri khusus sebagai simbol eksistensi sebuah bangsa, karena suatu bangsa tanpa warisan budaya ibarat sebuah bangsa yang tidak mempunyai kepribadian.
“Memaknai kepribadian, dimulai dari bagaimana menelisik dan mendalami apa yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga proses memahami secara utuh suatu bangsa dapat dilakukan, yang tentunya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan di masa kini dan di masa yang akan datang. Artinya melestarikan warisan budaya bangsa sama halnya dengan menghargai cerminan maupun watak kepribadian bangsa,” kata dia.
( MH Habib Shaleh / CN08 )
di unduh dari : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/08/15/34487/Madya.dan.UGM.Gelar.Jajah.Nagari.di.Magelang

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Arkeologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s