Warisan Budaya Memprihatinkan

HERITAGE IN DANGEROUS

Bangunan mirip gardu atau pos jaga di atas sekarang ini usianya sudah lebih dari 50 tahun, dengan demikian apabila kita mengacu pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, maka bangunan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya (BCB). Terlepas apakah bangunan tersebut termasuk warisan budaya atau tidak, foto dan judul di atas sengaja saya tayangkan dan dimaksudkan sebagai simbol peringatan kepada para ahli arkeologi dimanapun mereka mengabdi, baik di bidang penelitian, pelestarian, pemanfaatan, maupun bidang pendidikan. Terserah apa tafsir Saudara terhadap simbol atau lambang yang saya sampaikan ini. Anda dapat menghubungkan dengan kondisi pengelolaan sumberdaya arkeologi dewasa ini, baik pengelolaan di bidang pendidikan, pelestarian, penelitian, maupun dalam pemanfaatannya, serta sejauhmana keterlibatan masyarakat kita.

14 Juni 1913 adalah hari lahirnya Jawatan Purbakala yang resmi disyahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan surat keputusan No. 62. Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch – Indie atau Jawatan Purbakala adalah lembaga tetap yang bertugas di bidang kepurbakalaan seperti penelitian, pendokumentasian, dan pemugaran. 96 tahun sudah genap usia lembaga purbakala Indonesia. Walaupun kondisi sekarang ini bidang purbakala atau kearkeologian dipecah-pecah di beberapa instansi pemerintah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing, penulis masih berharap ruh Jawatan Purbakala yang  ditiupkan sejak 96 tahun yang lalu mudah-mudahan masih tetap hidup dan menjadi semangat bagi lembaga-lembaga baru yang menjadi jelmaannya seperti Direktorat Purbakala beserta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional bersama Balai-Balai Arkeologinya, serta Museum Nasional dan Direktorat Permuseuman berserta Museum-Museum yang ada di daerah.

Dalam rangka memperingati Hari Purbakala ke 96 marilah kita berkontemplasi bersama, selama ini masih adakah ruh Jawatan Purbakala yang menyemangati kerja kita sehari-hari? Kembali ke masa lalu bukan berarti kembali ke ketertinggalan, ingat, kearifan-kearifan masa lalu kadang-kadang lebih bijaksana dan lebih terasa kemaslahatannya dari pada kebijakan-kebijakan temporal dan terburu-buru seperti yang sering kita jumpai di era globalisasi sekarang ini. Bagi para generasi muda harus tahu sejarah dan jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Tanpa memahami sejarah masa lalu, saya yakin anda akan meraba-raba dalam menapaki masa depan. Di dalam sejarah pasti ada hikmah, menimba pengalaman dari orang yang lebih senior, diskusi, dan tukar informasi merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk memahami sejarah. Seberapapun banyak kekurangan dan kelemahan, para senior kita sudah pasti memiliki kelebihan yang kita tidak memilikinya, yaitu pengalaman-pengalaman pribadi yang sangat berharga dan perlu diketahui oleh para generasi muda. Selamat Hari Purbakala ke 96, tanggal 14 Juni 2009, Dirgahayu Purbakalawan Indonesia.

Penulis : Drs. H. Gunadi Kasnowihardjo, MHum.

Balai Arkeologi Jogjakarta

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di Warisan Budaya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s