Kisah Es Lilin dan Anak Sekolah di Perkebunan

Mendengar Es Lilin, barangkali ingatan kita akan tertuju pada makanan Es coklat yang memiliki tusuk di bagian tengahnya. Atau mungkin ada juga yang teringat pada satu daerah di Sumatera Selatan. Mungkin juga ada sebutan lainnya. Namun demikian, disini saya akan menceritakan kisah tentang Es Lilin yang kemudian menjadi nama lokasi tepatnya di daerah Afd. IV PT. Perkebunan Nusantara V Sei Rokan – Riau.

Kisah berawal dari seringnya penjaja keliling Es Lilin di daerah kami menggunakan sepeda motor untuk menjajakan dagangannya ke anak-anak sekolah. Kami merupakan salah satu pelanggan dari Es Lilin tersebut. Di tengah jalan sepulang sekolah, jikalau sisa uang jajan masih ada, kami biasanya akan membeli Es tersebut. Dari sekolah ke tempat tinggal kita masing-masing, yaitu Afd VIII (dahulunya antara tahun 1980 – 1996) PTPN V Sei Rokan – Riau kira-kira berjarak sekitar 7 KM. Ke sekolah biasanya kami di antar oleh mobil truck yang di sediakan berdasarkan patungan dari orang tua/wali murid, tidak demikian pulangnya. Pulang sekolah berjalan kaki. Truck yang mengantar kami ke sekolah juga tidak selalu tersedia, kadang karena kendala banjir, kami harus berjalan kaki, atau kemudian diantar menggunakan sepeda motor. Dan jikalau ada sepeda, ya bersepeda ke sekolah. Atau kalau malas, membolos di hari itu.

Sepulang sekolah, kami biasanya berjalan kaki hingga menjelang Afd. IV  (berjarak kurang lebih 3 KM dari sekolah) dan singgah di daerah yang biasanya dilalui mobil truck yang mengangkut buah sawit ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS), harapannya sepulang dari PKS, tentu mobil truck muatannya kosong dan kami bisa menumpang hingga ke tempat tujuan kami Afd. VIII. keikhlasan dan kebaikan dari supir untuk memberi tumpangan kepada kami merupakan satu hal yang biasa terjadi. Mungkin hal ini menunjukkan bahwa kami senasib dan sepenanggungan, yaitu sama-sama orang kebun.

Kembali ke Es Lilin, pada suatu hari sepulang sekolah kami keujanan di jalan menuju pulang. dan sudah menjadi kebiasaan jikalau sepulang sekolah kami selalu mempunyai ide-ide kreatif untuk mengisi perjalanan kami. Di hari itu, setelah hujan deras, kami (saya=joe, yanto bin thamrin, sudek, dan teman-teman lain yang tidak saya ingat semua) iseng-iseng menggali tanah liat dan membentuk tanah tersebut sesuai selera kami. Sambil berjalan kaki, ada yang membentuk tanah liat tersebut menyerupai patung orang, ada yang membentuk menyerupai gambar hewan bahkan ada yang membentuk tanah liat tersebut didasarkan pengalaman-pengalaman dari masing-masing anak-anak sekolah tersebut. Adapun kami, pada waktu itu iseng untuk membuat tanah liat menyerupai Es Lilin dan pada bagian tengahnya kami buat tusuk lidi dari pelepah sawit. Dan ternyata hari itu merupakan hari yang berkesan bagi kami, anak-anak sekolah yang berasal dari Afd. VIII, dimana Es Lilin menjadi maskot pada hari itu (lupa tanggalnya, namun kira-kira sewaktu saya kelas 2 SD tahun 1987). Berawal dari pertanyaan seorang teman untuk menanyakan keberadaan teman yang lainnya. misalnya pada waktu itu, dimana teman-teman yang lain menunggu mobil yang akan mengangkut mereka? kemudian saya jawab, di tempat yang dulu (istilah untuk menunjukkan kemarin) kita membuat Es Lilin. Dan selalu begitu jawaban-jawabannya, jikalau ada pertanyaan tentang lokasi tempat menunggu mobil truck dari PKS. lama kelamaan, teman-teman sekolah sudah terbiasa dengan penggunaan istilah Es Lilin untuk menunjukkan lokasi yang kita maksud. Bahkan anak-anak sekolah yang berasal dari Afd. IV juga terbiasa dengan penyebutan daerah tersebut.

Ketika beranjak dewasa dan menempuh studi di luar daerah (SMU di Palembang 1996 – 1998, dan Kuliah Di UGM – Yogyakarta tahun 1999), ternyata nama tersebut sudah menjadi nama (maksudnya tidak lagi ada embel-embel “di tempat waktu itu dimana kita membuat es lilin”, tetapi sekarang dikatakan di Es Lilin). Saya sendiri tidak menyangka bahwa daerah itu dipatenkan langsung menjadi Es Lilin oleh anak-anak sekolah pasca generasi kami. Tentu hal ini tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, dimana hasil dari ke isengan ternyata menciptakan nama sebuah daerah. Daerah tersebut masih saja daerah perkebunan sawit. Namun seiring dengan perkembangan jaman, ada rencana bahwa daerah tersebut termasuk dalam skema daerah ibu kota kabupaten yang rencananya akan dimekarkan, yaitu kabupaten Rokan Darussalam (rencananya akan memisahkan diri dari Kabupaten Rokan Hulu yang sebenarnya juga baru dimekarkan pasca lahirnya UU no. 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah).

Itulah sepenggal kisah tentang Es Lilin dan Anak Sekolah di Perkebunan. Sayang, tidak semua teman-teman masa kecil saya diketahui keberadaannya. Mereka merupakan anak-anak dari orang tua yang mengikuti program transmigrasi pemerintah dengan cara dikontrak selama 5 tahun dan bisa di perpanjang. Misalnya Yanto bin Thamrin, saat ini tidak diketahui dimana keberadaannya. Jikalau melihat logatnya kemungkinan dia berasal dari daerah Jawa Timur. Sudek, saya sudah mendapatkan nomor kontaknya tetapi belum pernah ketemu, sekalipun tinggalnya di daerah temanggung yang tidak terlalu dari Jogja dimana saya tinggal, dan teman-teman lainnya? Indah ya masa kecil….:-)

Tentang joemarbun

Dilahirkan di sebuah propinsi yang kaya minyak bumi, yaitu bumi lancang kuning Riau. 3 bulan setelah lahir, langsung dibawa ke kebun Sei Rokan Riau, di tempat dimana Bapak saya bekerja hingga pensiun. Sampai kelas 1 (satu) SMA, waktunya dihabiskan di Ujung Batu Rokan. Setelah itu Hijrah ke KOta Palembang smpe lulus SMA tahun 1998. Setelah itu ke Medan dan terus ke kota Jogja dan sekaligus studi di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini domisiliku di Jogja. Aktifitas selama ini berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Saat ini mendirikan Lembaga Transformasi dan Advokasi Kesehatan (LeTAK) pada 08 Agustus 2008 (08-08-08) yang berkantor di Jakarta. Tidak hanya sampai disitu. pada awal bulan Januari 2009, saat terjadinya pengrusakan situs Majapahit Trowulan oleh oknum pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah organisasi yang bernama: Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) yang konsen untuk permasalahan-permasalahan Warisan Budaya di tanah air Indonesia.
Pos ini dipublikasikan di tentang saya dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s