Menyoal Cagar Budaya Makam Mbah Priuk

17510541-MG-4311-kompasdotcom

Pintu masuk Makam Mbah Priok (Dok.kompasdotcom)

Oleh: Jhohannes Marbun*

Langkah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengeluarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta, Nomor 438 Tahun 2017 Tentang Penetapan Kawasan Maqom Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad (Mbah Priuk) Sebagai Lokasi Yang Dilindungi dan Diperlakukan Sebagai Situs Cagar Budaya menuai kecaman dari sebagian politisi, sejarahwan, dan budayawan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di OPINI | Tag , , , , , , , | 2 Komentar

Ketuhanan Johannes Leimena

 

Saudaraku, pada awal kemerdekaan, Indonesia memiliki seorang dokter religius yang memiliki kepedulian besar pada usaha kesejahteraan sosial, terutama menyangkut kesehatan masyarakat. Dokter itu bernama Johannes Leimena (biasa disapa Oom Jo), Putra Ambon (Maluku), kelahiran 6 Maret 1905. Ia kerap disebut sebagai dokter serba bisa karena selain menjadi dokter yang menguasai berbagai urusan kesehatan, ia juga seorang politisi dan diplomat dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda.

Leimena merupakan satu-satunya tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat Menteri (termasuk menteri muda, wakil menteri dan wakil Perdana Menteri) dalam 18 Kabinet yang berbeda, selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus; sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), utamanya di Kementerian Kesehatan dan Sosial. Bahkan ia pun pernah menjadi pejabat Presiden. Selain itu, Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Kepedulian sosial-keagamaannya mulai bangkit saat ia menempuh pendidikan kedokteran tingkat rendah di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) di Jakarta dan NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Pada masa ini, keprihatiannya atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa memberinya motivasi untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Penghayatan religiositasnya tumbuh bersamaan dengan kesadaran sosialnya. Pada 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung, yang kemudian melahirkan Organisasi Oikumene pertama di kalangan pemuda Kristen, Cristelijke Studenten Vereeniging (CSV), yang merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Selain itu, sebagai aktivis Jong Ambon, ia juga ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia II, yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Setelah menempuh pendidikan kedokteran tingkat rendah di NIAS Surabaya (1930), ia melanjutkan studinya untuk meraih dokter penuh di Geneeskunde Hogeschool (GHS – Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Ia meraih gelar doktor pada 17 November 1939 dengan disertasi Leverfunctie-proeven bij Inheemschen”, yang mengkaji kasus-kasus penyakit yang dijumpainya selama bertugas. Setelah itu, ia berjuang melalui profesi kedokterannya untuk mengembangkan kemanusiaan; bukan hanya kemanusiaan secara fisik sesuai dengan profesinya sebagai dokter, melainkan juga humanisme transendental yang diwujudkan dalam tindakan. Pemikiran kesehatannya melebihi batas-batas ilmu kedokteran dan kesehatan yang digelutinya.

Dengan humanisme transendentalnya, Leimena menjelma menjadi sosok seorang dokter yang memiliki jiwa dan sifat kesetiakawanan yang tinggi. Sebagai orang beriman, ia mengamalkan ajaran Kristennya ke dalam pergaulan bermasyarakat dan berbangsa. Bagi Oom Jo, beragama dan beribadah adalah “suatu kesadaran yang bertanggung jawab” sehingga dalam prakteknya adalah “berkewarganegaraan yang bertanggung jawab.”

Setelah menyandang gelar dokter, ia mulai diangkat sebagai dokter yang bertugas di CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Komitmen kemanusiaannya tersentuh saat membantu pasien korban letusan Gunung Merapi, dan tambah menguat ketika bertugas di rumah sakit Immanuel Bandung dan rumah sakit milik pabrik kertas di Padalarang.

Leimena terkenal karena keberhasilannya menemukan racikan obat salep untuk mengobati penyakit kulit ringan, yang banyak diidap rakyat kecil, dengan label “salep Leimena”. Salep yang sangat terkenal mujarab pada zamannya itu membuktikan seorang Leimena sebagai dokter yang inovatif dan peduli kebutuhan rakyatnya.

Oom Jo merasa tak cukup melayani pasien yang ada di poliklinik atau rumah sakit. Ia sering berkunjung ke daerah sekitar Bandung melihat kondisi kesehatan di masyarakat seperti di Sumedang, Padalarang, Majalaya, dan Ciparay. Kelak, hasil persentuhannya dengan masyarakat ini membuatnya memiliki gagasan membentuk poliklinik untuk melayani masyarakat, khususnya petani.

Ketika menjabat Menteri Kesehatan (1953-1955), Oom Jo merumuskan rencana pembangunan kesehatan yang komprehensif yang dikenal dengan nama Rencana Leimena. Rencana ini mengkonsepsikan pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan penyembuhan (preventif dan kuratif) dan perimbangan fasilitas layanan kesehatan di kota dan desa. Melihat kondisi kesehatan masyarakat yang disaksikan, menumbuhkan kepedulian pada Leimena. Kepedulian kemanusiaan inilah yang membuatnya sangat mempedulikan kesehatan masyarakat Indonesia, dengan mengembangkan pendirian layanan kesehatan yang sekarang dikenal sebagai Puskesmas.

Sedemikian kuat komitmen dan integritasnya dalam kemanusiaan dan kesejahteraan sosial, tak heran kalau Mohammad Roem, yang pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia, menyebut Leimena sebagai “pribadi yang memiliki integritas, kejujuran penuh dedikasi”. Sri Sultan Hamengkubowono IX (1979) pun pernah mengenang arti penting sosok Leimena, “Andaikata Oom Jo sekarang ini masih berada di tengah-tengah kita, niscaya dia akan menjadi tauladan kita semua sebagai pemimpin politik yang jujur dan sebagai pemimpin yang tetap hidup sederhana dengan murni” (Zuhdi, 2010).

Bahkan tak kurang dari Bung Karno sendiri memberikan testimoni atas dirinya: “Ambillah misalnya Leimena—seorang dokter desa. Kami pernah berjumpa sebentar di masa perang ketika ia mengobati sakit kepalaku dan kemudian, juga sebentar, ketika aku berkunjung ke kotanya setelah kemerdekaan. Tidak lama setelah itu seorang pembantuku menjemputnya untuk dibawa ke Jakarta. Sebagai seorang Kristen dari Maluku, ia mewakili dua minoritas yang kuinginkan dalam kabinetku, untuk mewujudkan semboyan kami: Bhinneka Tunggal Ika. Yang lebih penting, saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui” (Adams, 2011: 289).

Jejak langkah Dokter Leimena merupakan contoh ekselen dari semangat ketuhanan yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Dirinya merupakan penjelmaan dari tiga peran sosial dalam mewujudkan keadilan sosial: peran penyelenggara negara, peran pasar/pelaku usaha (sebagai dokter dan pemegang merek “salep Leimena”) dan peran masyarakat sipil (sejak aktivis mahasiswa) yang secara bergotong-royong menghadirkan kesejahteraan sosial.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

Sumber: WAG Revolusi Mental

Penulis: Yudi Latif

Dipublikasi di ARTIKEL | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Marbinda di Siborongborong

20161224_074329Barangkali kita masih asing dengan kata ‘binda’? Bagi masyarakat Batak kata binda atau marbinda tentu sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi masyarakat Batak perantau khususnya generasi muda, mungkin sudah sangat asing di telinga, atau jikalaupun masih akrab, banyak yang tidak tahu arti kata tersebut.

Op. Pangihutan Lumbantoruan (74), tetua masyarakat Siborongborong yang saya temui di lokasi binda di Jalan Makmur Sabtu pagi ini (24/12/2016) memberikan penjelasan mengenai ‘binda’. Binda merupakan tradisi yang lazim di masyarakat Batak untuk memotong hewan peliharaan (pinahan). Binda memiliki arti ‘bagi’.

Sedangkan ‘marbinda’ memiliki pengertian musyawarah atau kesepakatan yang dilakukan suatu kelompok masyarakat untuk memotong hewan peliharaan dan dibagi sama rata baik daging, tulang, kulit, bagian dalaman maupun bagian lainnya kepada orang yang bersepakat melakukan ‘binda’.

Op. Pangihutan menjelaskan lebih lanjut bahwa ‘marbinda’ bisa dilakukan dengan melakukan perencanaan setahun sebelumnya seperti untuk menyambut pesta Natal yang lazim dilakukan setiap tahunnya. Masyarakat Jalan Makmur sebagaimana kita saksikan hari ini sudah merencanakan ‘marbinda’ sejak setahun sebelumnya dengan jumlah anggota 30 orang dan memberi iuran lima puluh ribu rupiah tiap bulannya. Lalu pada waktu yang telah ditentukan, masyarakat membeli kerbau lalu dipotong dan dibagi kepada orang-orang yang telah bersepakat dan memberikan iuran.

Namun demikian, lanjut Op. Pangihutan, kegiatan ‘marbinda’ tidak selalu direncanakan. Misalnya karena kerbau atau babi sakit, lalu dibicarakan untuk dipotong dan dibagi ke orang-orang yang telah bersepakat. Demikian pula, ‘marbinda’ tidak selalu dikaitkan dengan perayaan tertentu, tetapi segala kegiatan yang patut disyukuri (suka cita) atau berhubungan dengan harapan (cita-cita). Misalnya kegiatan semai, tanam/tabur, atau panen padi. “Ini dahulunya sering dilakukan oleh masyarakat Batak yang hidup bertani, bahkan sebelum kekristenan masuk ke tanah Batak”. Terang Op. Pangihutan.

Dalam konteks nilai, ‘marbinda’ memiliki nilai-nilai yang baik di antaranya gotong-royong, musyawarah dan bermufakat, kebersamaan, dan keadilan. Kiranya tradisi masyarakat yang masih ‘dipelihara’ ini mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat Batak yang telah mulai melupakan dan bagi bangsa Indonesia yang sedang diuji dalam bingkai persatuan di tengah-tengah keberagaman.

Penulis: Jhohannes Marbun

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

GERAKAN CINTA DANAU TOBA

Revisi Poster Gerakan Cinta Danau Toba 2015 Final

Gerakan Cinta Danau Toba merupakan sebuah gerakan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memberi perhatian dan mewujudkan kecintaan terhadap Danau Toba. Gerakan sosial bersama ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi Danau Toba yang semakin rusak akibat dari penebangan hutan dan juga industri Keramba Jaring Apung skala besar yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas air Danau Toba. Dengan adanya kecintaan, maka akan lahir pengorbanan sekaligus pengharapan untuk menyelamatkan dan memelihara Kawasan Danau Toba. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada tanggal 27 – 30 Desember 2015 merupakan strategi membangun sebuah kebersamaan dan harapan, agar tercipta suatu kondisi yang aman, nyaman, menyenangkan, dan bersahabat. Tunggu apalagi? silahkan jadwalkan diri ada untuk mengikuti acara yang akan digelar serentak di 7 (tujuh) Kabupaten Kawasan Danau Toba.

Dipublikasi di KEGIATAN | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Michael Hatcher dan Konflik Kepentingan Pengelolaan BMKT di Indonesia

Hatcher meyelam sendiri,Geldermaison 2001Oleh Jhohannes Marbun

Michael Hatcher Tak Tersentuh Hukum
Pada bulan April – Mei 2010 lalu, Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa (KPAB) dan Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) pernah mengungkapkan MAFIA LAUT, yaitu perburuan harta karun secara illegal dari perairan Blanakan, Cirebon oleh seorang penyelam internasional, Michael Hatcher. Mike sebutan Hatcher telah berulangkali melakukan penjarahan di Perairan Indonesia, baik di wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, namun tidak pernah disentuh oleh aparat penegak hukum di republik ini, atau sebaliknya bekerjasama dengan oknum pejabat tinggi penegakan hukum. Dugaan masuknya kembali Michael Hatcher ke wilayah Hukum Republik Indonesia sudah terjadi sejak tahun 2014 sampai dengan bulan Juli tahun 2015 ini. Padahal, pada tahun 2010 lalu, pihak Kepolisian RI melalui media menyatakan bahwa Michael Hatcher telah di Cekal (Cegah dan Tangkal) atas kasusnya di Perairan Blanakan . Pencekalan ini sebenarnya pernah juga dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya akibat pencurian (pengangkatan secara illegal) Barang Muatan atas Kapal Tenggelam (BMKT) di Perairan Riau beberapa kali. Bahkan aksi Hatcher ini, telah menguras banyak dana, tenaga, maupun pikiran dari Pihak Pemerintah mengejar barang jarahan ke Australia maupun Jerman sampai terakhir pada April – Mei 2010 terungkap kembali peran Pengangkatan Illegal yang dilakukan oleh Michael Hatcher di Perairan Blanakan, Cirebon. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ARTIKEL | Tag , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Kepolisian didesak bentuk tim cari koleksi Sonobudoyo

*Lima Tahun Kasus Sonobudoyo

Yogyakarta, (Antara Jogja) – Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi warisan budaya, Madya mendesak Polda Daerah Istimewa Yogyakarta membentuk tim khusus pencarian koleksi Museum Sonobudoyo yang telah hilang selama lima tahun.

“Selama lima tahun sejak 87 koleksi emas `masterpiece` Museum Sonobudoyo hilang, sepertinya tidak ada perkembangan apapun dari proses penyelidikan maupun pengungkapan pencurian ini. Oleh karena itu, kami minta agar Kepolisian DIY segera membentuk tim khusus dan melakukan gelar perkara terbuka,” kata Koordinator Madya Jhohannes Marbun di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, masyarakat perlu mengetahui perkembangan proses penyelidikan dan pengungkapan kasus pencurian yang telah dilakukan oleh kepolisian.

Selain mengirimkan surat ke Polda DIY, lembaga nirlaba tersebut juga mengirimkan surat ke Dinas Kebudayaan DIY dan DPRD DIY untuk meminta audiensi mengenai proses penyelidikan kasus tersebut dan upaya agar kasus serupa tidak lagi terulang.

Pencurian koleksi emas “masterpiece” Museum Sonobudoyo diketahui terjadi pada 11 Agustus 2010. Namun, selama proses penyelidikan hingga saat ini, lanjut Marbun, tidak diketahui keberadaan koleksi yang hilang maupun pelakunya.

“Kepolisian selalu beralasan bahwa mereka sulit melacak koleksi dan mengungkap pelaku karena terbatasnya alat bukti. Kami menilai, kepolisian tidak transparan dalam penanganan kasus ini,” katanya.

Ia menambahkan, kasus hilangnya koleksi Museum Sonobudoyo tidak hanya terjadi pada 2010, tetapi terdapat kasus serupa yaitu hilangnya koleksi senjata dari museum berupa keris dan tombak.

“Jangan sampai kejadian ini terulang akibat lemahnya pengawasan dan manajemen museum. Museum Nasional yang memiliki sistem keamanan terbaik saja mengalami pencurian. Ini membuktikan bahwa museum di Indonesia masih rentan terhadap kasus seperti ini,” katanya.

Ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mengawal pengungkapan kasus pencurian tersebut hingga dalangnya terungkap.

“Jika pencurian ini tidak terungkap, maka kasus seperti ini bisa terus berulang. Pemburu benda-benda bersejarah akan bebas beraksi dengan memanfaatkan kelemahan sistem pengamanan museum,” katanya. ***2***

(E013)
sumber: jogja.antaranews.com

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Megawati Merestui Jokowi sebagai Calon Presiden Pada Pilpres 2014 ?

Bocoran Intelijen Singapura, Megawati: Jokowi Kehendak Sejarah

Image

 

jokowi ahok saat mencalonkan sebagai cagub/cawagub by. CiriCara.com

 

JAKARTA, baranews – Megawati tidak ada keraguan memajukan Jokowi sebagai Capres PDI Perjuangan 2014. Menurut Megawati, Jokowi adalah kehendak sejarah yang tidak bisa dihambat siapa pun.

Demikian informasi bocoran National Security Agency (NSA) Singapura yang diperoleh baranews.co Jumat (3/1) siang. “NSA Singapura memantau percakapan Megawati dengan berbagai pihak,” kata sumber itu.

Dikatakan, dalam kelompok-kelompok kecil yang dekat dengan Megawati, malah banyak yang tidak tahu, apa sebetulnya yang ada di kepala Megawati, apakah memajukan Jokowi atau memajukan dirinya sendiri.

Dari semua percakapan Megawati dengan Jokowi selama ini, yang rata-rata bertemu tiga kali seminggu, tidak ada staf yang ikut sehingga tidak ada yang tahu detail pertemuan kedua tokoh. Persisnya, hanya Megawati dan Jokowi yang tahu.

“Tentu saja Megawati berpikir untuk bangsa. Kepentingan PDI Perjuangan, bagi Mega masih kalah dibanding kepentingan bangsa. Makanya memajukan Jokowi,” tambahnya.

Tidak dirinci, bagaimana NSA Singapura memantau Megawati. Dalam berbagai berita, sebelumnya dikatakan, Singapura, Korea Selatan, Australia, membantu NSA Amerika. Namun yang menjadi polemik, hanya aktivitas NSA Australia.

Menurut sumber yang dekat intelijen asing, Megawati sekarang tinggal mencari Cawapres mendampingi Jokowi. “Dengan membaca bahasa tubuh Megawati, sebetulnya publik sudah tahu siapa yang akan dimajukan mendampingi Jokowi,” katanya.

Ditanya, apakah Megawati akan memajukan Pranda Prabowo atau Puan Maharani, sumber menampik. “Ibu Megawati berpikir untuk bangsa, bukan hanya untuk PDI Perjuangan. Jadi bukan salah satu dari kedua anaknya.” tandasnya. (sm)

sumber: http://baranews.co, 03 Januari 2014

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Perlengkapan Sembahyang Berumur 3.000 Tahun Dicuri

Pencurian terhadap benda antik yang dapat dimasukkan dalam kategori benda cagar budaya (BCB) kembali di curi di Kota Palembang. Pelestarian warisan budaya pada awal tahun 2014 menjadi ternodai karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab. Keamanan seharusnya menjadi faktor penting dan wajib menjadi perhatian bagi semua pihak terutama pengelola warisan budaya.

Perlengkapan Sembahyang Berumur 3.000 Tahun Dicuri

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG – Rumah induk di Kampung Kapiten yang merupakan peninggalan keturunan kesepuluh dari kapitan zaman Belanda, Cua Ham Him dibobol kawanan maling. Sebanyak 30 tempat membakar garu (Hio) yang terbuat dari kuningan, timah dan wadah lilin yang berada di altar sembahyang lenyap. Diduga kawanan pelaku masuk ke rumah tersebut dari bagian belakang rumah yang telah memang telah ambruk.

Mulyadi alias Tyoa Tiong Gie (52), ahli waris yang ditemui Kamis (2/1/2014) mengatakan, semua barang yang hilang merupakan barang antik yang berusia mencapai tiga ribu tahun.

Mulyadi menyatakan, kejadian pencurian tersebut terjadi pada tanggal 1 Januari 2014 pukul 16.00 sore. Orang yang pertama kali mengetahui peristiwa pencurian itu adalah anak buahnya yang bernama Ayang (36). Ketika itu, saat mau mengantarkan orang yang ingin pergi sembahyang, tetapi saat menuju altar semua barang peralatan sembahyang sudah tidak ada lagi.

Dari inventarisasi, barang yang hilang seperti 27 wadah dupa dari kuningan, 1 wadah garu kuningan, serta 2 buah wadah lilin dari timah. Menurutnya total kerugian belum dapat diperkirakan karena semua barang tersebut termasuk barang antik yang telah berumur tiga ribu tahun. Barang tersebut telah ada sejak turun temurun.

“Pukul 16.00, saat ada orang yang ingin sembahyang dan dibantu oleh Ayang yang mengantar ke altar, tapi ternyata semuanya sudah hilang. Kalau ditanya berapa kerugian yang jelas mahal sekali karena barang tersebut merupakan peninggalan leluhur kami yang sudah ada sejak tiga ribu tahun lalu,” ujar Mulyadi.

Ia menambahkan, sebenarnya dirinya sudah melapor saat terjadi kejadian ke Polsek SU I, tapi Polsek SU I memintanya melapor ke Polresta Palembang. Oleh karena itu baru hari ini dia melapor.

Mulyadi selaku ahli waris menyatakan, sekarang ia hanya bisa berharap barang tersebut dapat ditemukan, karena itu merupakan barang peninggalan leluhur yang harus dijaga. Ia juga berharap polisi dapat secepatnya mengungkap kasus pencurian tersebut.

Saat korban melapor ke Polresta Palembang, tim Identifikasi Polresta bersama Ka SPKT Polresta Palembang Iptu Syamsul Fitri langsung mendatangi TKP yang berada di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) 1 Palembang, dan langsung melakukan olah TKP.

Pantauan Sriwijaya Post (Tribunnews.com Network) di lapangan kondisi di dalam altar tempat sembahyang, terlihat banyak abu berserakan di lantai serta pintu belakang masih terbuka karena memang rumah tersebut tidak ditinggali, hanya sesekali dibuka saat ada orang yang ingin sembahyang. Oleh karena itu banyak genteng yang berserakan dan dinding rumah yang jebol.

Sementara itu Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Djoko Julianto Sik MH mengatakan, kasus pencurian barang antik yang berada di rumah induk Kampung Kapiten masih dalam penyelidikan petugas. Barang yang hilang berupa alat sembahyang yang berbahan kuningan dan timah kemungkinan akan dijual pelaku kepada penadah atau pecinta koleksi barang antik.

“Setelah mendapat laporan polisi langsung menuju TKP dengan didampingi tim Identifikasi dan bagian Reskrim langsung melakukan pengejaran kepada pelaku. Dilihat dari jejaknya diduga pelaku orang lama yang sering terlibat kasus pencurian,” ujarnya.

sumber: http://www.tribunnews.com

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 6,800 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 6 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Dipublikasi di TENTANG SAYA | Meninggalkan komentar

Rangkaian Kegiatan Temu Nasional Aktivis/ Relawan Pelestari Warisan Budaya, 8-9 Januari 2014 @Yogyakarta

Rangkaian Kegiatan Temu Nasional Aktivis/ Relawan Pelestari Warisan Budaya, 8-9 Januari 2014 @Yogyakarta

Ayo Para Pejuang Pelestari Warisan Budaya,
Daftarkan dan kirimkan biodata anda melalui pesan (inbox) FB Madya Indonesia, email: advokasiwarisanbudaya@yahoo.com, advokasiwarisanbudaya@gmail.com, atau sms ke Ima 085643501617, dengan menuliskan:

Nama Lengkap/ Jenis Kelamin (L/P)/ tempat, tanggal lahir/Pekerjaan – Institusi/Alamat Tinggal/ HP/ Email/ Ikut Temu Nasional.

Pendaftaran selambatnya Hari Selasa 07 Januari 2014 Pukul 17.00 Wib
dengan memberikan Kontribusi sebesar Rp 100.000,- (Seratus Ribu Rupiah) untuk seluruh rangkaian kegiatan melalui rekening:
~Jhohannes Marbun~ Bank Mandiri Cabang UGM #No. Rek. 1370003015324#
(Mohon dibawa dan tunjukkan resi pembayaran kepada panitia saat pelaksanaan kegiatan)
Fasilias: Sertifikat, Seminar/Workshop Kit, Kontribusi masuk tempat wisata jelajah, snack dan makan selama kegiatan, dan souvenir menarik.

Gambar | Posted on by | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

George Williams, Tokoh Pendiri YMCA

oleh: Jhohannes Marbun

Tanggal 06 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai hari lahirnya Young Men’s Christian Association (YMCA) atau sering dikenal dengan YMCA Day. Siapakah tokoh dibalik lahirnya perkumpulan organisasi pemuda kristiani tersebut? Tokoh tersebut adalah George Williams, anak bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan Amos dan Elisabeth Williams. George Williams lahir pada tanggal 11 Oktober 1821 di Dulverton, Somerset, Inggris. Kelahiran George Williams mewakili sebuah pergeseran situasi sosial Revolusi Industri, dimana terjadi arus urbanisasi dari pedesaan ke kota-kota berkembang di Inggris. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Benarkah Pejabat Museum di Balik Kasus Hilangnya Koleksi Sonobudoyo ?

Teka-teki pencuri 87 Koleksi Masterpiece Museum Negeri Sonobudoyo mulai menunjukkan titik terang. Diduga kuat Keterlibatan pejabat Museum dalam kasus tersebut. Setidaknya berdasarkan beberapa kejanggalan mulai dari cctv maupun kunci yang dikumpulkan semua ke pejabat museum sebagaimana hal tersebut disampaikan oleh GBPH Yudhaningrat melalui koran Sindo. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , | 1 Komentar

Peringatan 1000 Hari Hilangnya Koleksi Masterpiece Sonobudoyo

Panitia Peringatan Hari Museum Internasional 2013 di Yogyakarta
menyelenggarakan
Dialog Refleksi dan Doa Bersama
“Peringatan 1000 Hari Hilangnya Koleksi Emas Masterpiece Museum Sonobudoyo”
Momentum Mengubah Museum menjadi Ruang Publik
 
Pendopo Utama Museum Sonobudoyo – Yogyakarta, 29 Mei 2013
Dalam tradisi budaya Jawa, selametan nyewu atau peringatan 1000 hari adalah prosesi ritual paling penting dalam rangkaian upacara peringatan meninggalnya seseorang. Upacara peringatan 1000 hari ini merupakan upacara penutup, memperingati meninggalnya seseorang untuk terakhir kalinya (selametan nguwis-uwisi). Selametan ini bertujuan mendoakan arwah orang yang meninggal agar memperoleh ketenangan dan kerabat yang ditinggalkan mendapatkan keikhlasan. Selain diisi dengan doa, upacara ini juga disertai dengan upacara ngijing, atau membangun batu nisan di makam. Sebagai upacara “perpisahan terakhir” dari arwah seseorang yang sudah meninggal dengan kerabat yang masih hidup, biasanya tradisi nyewu akan digelar semeriah mungkin, daripada peringatan-peringatan sebelumnya. Peringatan 1000 hari akan menjadi penanda keikhlasan kerabat yang ditinggalkan untuk melepaskan kepergian arwah yang sudah meninggal untuk selama-lamanya. Hubungan antara arwah dan kerabatnya pun akan “lepas” karena arwah telah kembali berdiam di asalnya di sisi Sang Pencipta.
Bulan ini juga genap 1000 hari hilangnya 87 koleksi emas masterpiece Museum Negeri Sonobudoyo. Kehilangan besar ini telah memasuki tahun ketiga, sejak dinyatakan hilang pada tanggal 11 Agustus 2010 yang lalu. Namun, menjadi pertanyaan pula bagi kita semua, apakah dengan telah berjalannya waktu lebih dari 1000 hari ini maka kita layak untuk melepas dan mengikhlaskan “kepergian” koleksi emas masterpiece bersejarah yang tak ternilai tersebut? Apakah setelah berlalu 1000 hari, kita bisa siap melanjutkan langkah ke depan, tanpa mengharapkan “roh” dan “wujud” koleksi emas museum ini kembali lagi ke kehidupan kita? Kehidupan apa yang sebenarnya kita harap bisa dijalani jika kemudian kita mengabaikan nilai-nilai luhur pusaka (warisan) budaya bangsa ini dengan membiarkan kasus ini lenyap tanpa bekas?
Puncak Gunung Es Eksklusivitas Museum
Kasus hilangnya koleksi emas itu memang menyisakan beragam pertanyaan. Tidak hanya muncul pertanyaan tentang perkembangan kasus, tetapi juga pertanyaan tentang apa nilai penting artefak yang hilang itu. Kemudian, manfaat apa yang bisa didapatkan oleh masyarakat ketika koleksi tersebut hilang atau bahkan ditemukan kembali? Selama ini publik kemudian hanya terbatas menyampaikan pandangan prihatin. Namun, selebihnya, tak ada hal lebih lanjut yang akan dilakukan. Tak ada dorongan kuat dan luas dari masyarakat umum untuk penyelesaian kasus ini. Jika pun ada geliat, sangat terbatas muncul dari kelompok kecil yang tak bisa mewakili pandangan publik secara keseluruhan.
Hal itu menunjukkan bahwa kasus hilangnya koleksi emas di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta adalah puncak gunung es dari suatu tantangan yang lebih besar. Museum belum menjadi bagian yang populer dari kehidupan publik. Sebabnya ada banyak faktor. Namun, eksklusivitas menjadi faktor utama. Eksklusivitas adalah faktor utama yang menjadikan museum berjarak dengan publik, sehingga tak semua orang dengan senang hati berkunjung ke museum, apalagi berjuang untuk museum. Eksklusivitas dalam hal apa?
Banyak museum yang dari sisi manajemen mulai lebih terbuka bagi publik sebagai bagian dari atraksi wisata dan media pendidikan. Namun, sebagian museum kita masih searah. Interpretasi yang ditawarkan atas suatu artefak yang dipajang masih eksklusif, berdasarkan pada pemaknaan pakar atau bahkan negara atas sejarah suatu artefak. Sangat sedikit atau bahkan hampir tak dijumpai ruang bagi publik untuk bisa terlibat dalam membangun interpretasi dan narasi dalam suatu museum. Akibatnya, publik hanya merasa disuguhi dan dijejali pajangan yang sering miskin informasi. Tidak terbangun interaksi dan komunikasi dua arah yang aktif dalam upaya membangun pengetahuan bersama yang terjadi antara museum dengan publik.
Memori dan Kreativitas untuk Perubahan Sosial
Museum di kota-kota di negara yang serius membangun strategi kebudayaannya adalah salah satu tujuan utama yang selalu diletakkan di awal program kunjungan wisata. Museum dirancang mampu menjadi etalase kebudayaan kota atau negara tersebut, bak taman mini yang menyapa ramah para tamu. Bahkan, banyak museum yang mau bersusah payah memboyong sebagian koleksi berbungkus informasi yang lengkap dan akurat ke dalam bandara. Mereka berusaha menyapa dan menampilkan identitas sejak dari gerbang kedatangan. Dari koleksi dan informasi yang ada, publik atau wisatawan akan mendapatkan citra yang utuh, tak hanya tentang sejarah kota/negara itu, tetapi juga profil termutakhir peradaban yang akan mereka kunjungi. Dari museum, penjelajahan pun dimulai. Interaksi dan dampak dari pengunjung pun kemudian tak hanya didapatkan oleh museum, tetapi juga komunitas yang hidup/tinggal jauh dari museum.
Koleksi yang terkelola apik lengkap dengan informasi akurat adalah panduan yang menarik bagi publik dan wisatawan untuk berkunjung ke lebih banyak tempat. Narasi sejarah (memori) dan karya seni kreatif akan mendorong publik, penduduk setempat dan wisatawan, untuk menjelajahi peradaban kota/negara yang tertampilkan di museum. Otomatis, sektor sosial ekonomi akan terdorong sebagai dampak positif dari kunjungan tersebut. Jadi, ada keterkaitan langsung antara memori dan kreasi yang terpajang di museum dengan situasi yang akan terpengaruh dan berubah di masyarakat. Hal itu sejalan dengan semangat The International Council of Museums (ICOM) yang dalam peringatan Hari Museum Internasional 2013 mengusung tema “Museums (Memory + Creativity) = Social Change”. Ada semangat yang ingin diwujudkan bahwa kehadiran museum pun mampu berperan dalam membangun perubahan sosial merujuk dari himpunan pengetahuan yang dikelolanya.
Momentum Refleksi dan Rencana Aksi untuk Sonobudoyo
Museum yang dibangun oleh Yayasan Java Instituut pada tahun 1931 dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1935 ini sedang menyiapkan diri menjadi museum bertaraf internasional. Museum Sonobudoyo terbagi dalam dua unit. Unit I terletak di kompleks Bangsal Pengurakan di Alun-Alun Utara yang menampilkan koleksi sejarah, arkeologi, dan etnografi. Unit II terletak di Kompleks Dalem Condrokiranan, Panembahan, Kraton yang menampilkan koleksi sejarah dan etnografi khusus untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, sayang, manajemen koleksi dan informasi di kedua museum ini masih sangat memprihatinkan. Selain ragam koleksi terpajang yang tak dinamis, kusam, tak terpelihara, dan miskin informasi, pengamanannya pun lemah. Hilangnya koleksi emas yang berlabel masterpiece dari museum ini pun hanya menjadi satu penanda dari banyak penanda lain bahwa museum harus segera berbenah.
Museum Negeri Sonobudoyo harus mampu tampil sebagai etalase peradaban Daerah Istimewa Yogyakarta pada khususnya dan kebudayaan Jawa pada umumnya. Narasi yang tertampilkan dapat dibangun dengan partisipasi publik, tak terbatas pada interpretasi pakar dan pemerintah yang cenderung kaku. Ada banyak pengetahuan, memori, dan kreativitas yang dapat dihimpun untuk ditampilkan ke dalam museum bersama dengan masyarakat. Unit I dapat dikelola dengan melibatkan publik dalam membangun interpretasi tentang sejarah, arkeologi, dan seni dari sudut pandang masyarakat. Museum Unit II dapat dikelola dengan melibatkan komunitas dari tiap daerah untuk mengisi koleksi dan membangun informasi. Dampaknya, museum akan dinamis dan memiliki keterkaitan langsung dengan publik yang bagian dari dirinya akan terwakili di sana. Publik dan wisatawan yang berkunjung ke Museum Sonobudoyo pun tak akan sekedar menikmati koleksi, tetapi juga informasi untuk melanjutkan penjelajahan berikutnya. Pengetahuan dan kebermanfaatan museum pun akan terbangun melampaui batas pagar bangunan dan sekat interpretasi yang selama ini mengurung museum dari publik yang dinamis dan kreatif.
Tujuan
Dialog ini akan dilaksanakan dalam format talkshow interaktif dengan menghadirkan beberapa narasumber utama sebagai pemantik dialog. Secara umum, dialog ini bertujuan untuk:
  1. Melakukan refleksi dan mengetahui perkembangan kasus Museum Sonobudoyo.
  2. Memetakan pola koordinasi dan relasi para pihak dalam pengelolaan museum.
  3. Menyamakan pemahaman dan membangun komitmen bersama untuk terlibat dalam perubahan tata kelola museum yang lebih baik ke depan
Waktu dan Tempat 
Hari, tanggal: Rabu, 29 Mei 2013
Pukul: 18.30–21.30 wib
Tempat: Pendopo Utama Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta Unit 1
Jl. Trikora No. 1 Yogyakarta (Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta)
Narasumber
  1. Tri Hartono, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY 
  2. Brigjen (Pol) Haka Astana, Kapolda DIY 
  3. Riharyani, Kepala Museum Negeri Yogyakarta 
  4. GBPH Yudhaningrat, Kepala Dinas Kebudayaan DIY 
Moderator
Jhohannes Marbun, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Indonesia
 
Penanggap
  1. Daud Aris Tanudirjo, Ketua Tim Pendamping Pengembangan Museum Negeri Sonobudoyo
  2. Syamsuddin Nurseha, Ketua LBH Yogyakarta
  3. Laretna Adhisakti, Pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM
  4. KRT Thomas Haryonagoro, Ketua Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY
  5. Elanto Wijoyono, Pemerhati Warisan Budaya
  6. Djaduk Feriyanto, Seniman
Peserta
  1. Masyarakat pecinta museum dan warisan budaya
  2. Anggota Barahmus DIY
  3. Seniman
  4. Umum
Pendukung (urutan berdasarkan abjad)
  • Badan Musyawarah Musea (Barahmus) Daerah Istimewa Yogyakarta;
  • Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI);
  • International Council of Museums (ICOM) Indonesia;
  • Indonesian Heritage Inventory;
  • Komunitas Blusukan Kampung Jogja;
  • Komunitas seniman pantomim;
  • Komunitas seniman tari UNY;
  • Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Indonesia;
  • Peta Hijau Yogyakarta;
  • Senthir, Youth Spirit of Jogja Heritage Society;
  • dan pihak lain baik secara individu ataupun kelompok.
Jadwal
…..   – 18.45 Kedatangan peserta dan pengisi acara Among Tamu
18.45 – 18.50 Pembukaan
18.50 – 19.00 Penampilan seni: Tari Topeng
19.00 – 19.40 Paparan dialog
19.40 – 20.20 Tanggapan
20.20 – 20.30 Pertunjukan seni: Pantomim
20.30 – 21.00 Dialog membangun pemahaman dan komitmen bersama
21.00 – 21.15 Doa bersama Tokoh Muda Lintas Agama
21.15 – 21.30 Penampilan Seni dan Penutup
Gambar dari MADYA Indonesia.

 

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

DIY bentuk tim khusus selidiki perusakan BCB

Oleh Eka Arifa Rusqiyati

Yogyakarta (Antara Jogja) – Pemerintah DIY membentuk tim khusus yang terdiri atas sejumlah dinas terkait, Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, dan Polda DIY untuk menyelidikan perusakan bangunan cagar budaya yang kini digunakan sebagai aktivitas belajar mengajar sekolah swasta.

“Tim ini akan mulai menyelidiki perusakan bangunan cagar budaya tersebut pada Rabu (22/5) dengan meminta keterangan saksi dan mengumpulkan bukti-bukti,” kata Koordinator Tim Penyidikan Perusakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) Nursatwika di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, penyidikan akan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) karena kasus perusakan bangunan cagar budaya yang berada di Jalan Tentara Pelajar Nomor 24 tersebut dikategorikan sebagai kasus khusus.

Dalam penyidikannya, PPNS akan menggunakan dasar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya meskipun Pemerintah DIY juga memiliki Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya.

“Karena peraturan daerah yang dimiliki pemerintah juga mengacu pada Undang-Undang Cagar Budaya, maka penyidikan pun didasarkan pada aturan yang lebih tinggi,” katanya.

Dalam Undang-Undang Cagar Budaya tersebut dinyatakan bahwa pelaku perusakan bangunan cagar budaya bisa dikenai hukuman denda maksimal Rp5 miliar atau kurungan hingga 15 tahun.

“Kategori kasus perusakan bangunan cagar budaya yang kami selidiki ini termasuk kasus berat. Ada batasan waktu 120 hari bagi penyidik untuk bisa membawa kasus tersebut hingga diajukan ke pengadilan,” katanya.

Meskipun seluruh proses penyidikan dipusatkan di Kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, namun Nursatwika mengatakan, tidak menutup kemungkinan proses penyidikan dilakukan di Polda DIY atau di Dinas Kebudayaan DIY.

Saksi pertama yang akan kami mintai keterangan adalah Kepala SMA 17 “1” Suyadi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharso mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan dengan sejumlah pihak terkait pada Senin (20/5) dinyatakan bahwa akan dilakukan proses identifikasi kerusakan bangunan cagar budaya tersebut.

Sedangkan Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta Nurwidihartana mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan Pemerintah DIY terkait tindak lanjut perusakan bangunan cagar budaya itu.

Akan ada langkah hukum setelah dilakukan penyidikan oleh PPNS. Kami tunggu bagaimana perkembangannya dan kami siap mendukung,” katanya.

(E013)

Editor: Nusarina Yuliastuti

Sumber: Antara Jogja, 21 Mei 2013

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sultan: Perusak Gedung SMA 17 Harus Diproses Hukum

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti agar segera memproses kasus perusakan bangunan SMA 17 Yogyakarta secara hukum.

“Saya minta pak Haryadi segera memproses hukum. Di luar sengketa yang terjadi, perusakan itu sudah melanggar SK Gubernur karena merusak bangunan cagar budaya (BCB),” ucap Sultan dijumpaiTribunjogja.com di sela peluncuran mikrobus listrik, Hevina di Taman Pintar, Senin (20/5/2013).

Meski dari sisi wilayah hukum kasus tersebut di bawah wewenang Pemkot Yogyakarta, namun Gubernur menyatakan siap berpartisipasi menyelesaikan kasus tersebut. “Kalau diminta partisipasinya, kami (Pemda DIY) siap terlibat,” tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dijumpai di kesempatan yang sama, mengaku tengah menyiapkan pelaporan kepada pihak yang berwenang terkait perusakan bangunan cagar budaya kelas C tersebut. Pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk mengumpulkan data-data terkait bangunan SMA 17 yang telah dirusak.

“Laporannya sedang dibuat, segera kami laporkan kepada yang berwajib,” ucap Haryadi.

Seperti diketahui sebelumnya, bangunan SMA 17 Yogyakarta di Jalan Tentara Pelajar telah dirusak oleh sekelompok orang sejak Senin (13/5/2013) pekan lalu. Terkait hal tersebut, Wali Kota maupun Gubernur tidak mau menduga-duga siapa oknum yang melakukan perusakan tersebut. Mereka menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada yang berwajib. (*)

Penulis : Eka Santi Anugraheni || Editor : Joko Widiyarso

sumber :Tribun Jogja online 20 Mei 2013

Dipublikasi di BERITA | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Polisi Janji Sikat Pencuri Museum Sonobudoyo Yogya  

TEMPO.CO, Yogyakarta – Kepolisian Yogyakarta berjanji segera menuntaskan kasus pencurian benda cagar budaya di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta. Siapa pun yang terlibat dalam pencurian 75 koleksi museum itu akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Melibatkan siapa pun, kami tidak peduli. Yang terlibat, kami sikat,” kata Kepala Sub-Direktorat  I Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Djuhandani Rahardjo Puro, Senin, 28 Januari 2013.

Kasus pencurian yang terjadi pada 11 Agustus 2010 itu seakan jalan di tempat. Sudah puluhan saksi diperiksa, tapi belum ada satu pun yang menjadi tersangka. Ia menyatakan, saat ini, Polda DIY menyokong Kepolisian Resor Kota Yogyakarta dalam menangani kasus ini.

Dengan sistem dan alat informasi yang sudah dimiliki oleh polisi, kata dia, memungkinkan pengungkapan kasus ini terselesaikan lebih cepat. Sebab, saat pencurian terjadi, polisi menyatakan masih kekurangan tim dan peralatan canggih. Polisi tidak akan berhenti dalam penyelidikan kasus yang sudah menjadi sorotan dunia itu.

MUH. SYAFULLAH

Sumber: Tempo Online

 

Taut | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Tanggapan MADYA atas Dugaan Klaim Tor-tor dan Gordang Sambilan oleh Pemerintah Malaysia

Tanggapan Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) terhadap ‘klaim’ Tor-tor dan Gondang Sambilan Oleh Pemerintah Malaysia

“Lemahnya Kesadaran Akan Pelestarian Warisan Budaya Bangsa”

 

Pemberitaan Kantor Berita Nasional Malaysia BERNAMA pada hari Sabtu, 16 juni 2012 yang lalu, tentang rencana negara Malaysia akan menetapkan Tarian Tor-tor dan Paluan Gordang Sambilan (sembilan gendang) masyarakat Mandailing sebagai Warisan Budaya Malaysia (berdasarkan Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005 Malaysia) ada beberapa hal yang perlu disampaikan disini: Fakta sejarah menunjukkan bahwa tortor merupakan tarian adat dari suku Batak yang biasanya dipraktekkan dalam ritual adat. Batak sendiri merupakan suku yang berasal dari puak-puak yang terdapat di wilayah Sumatera Utara khususnya wilayah Keresidenan Tapanuli (pada masa Kolonial). Namun dalam perkembangannya, suku Batak tidak saja tinggal dan menetap di wilayah asalnya, tetapi menyebar ke seluruh penjuru tanah air, termasuk ke Luar Negeri. proses perpindahan (migrasi) sudah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , , , , , | 1 Komentar

Tips Mencari Pacar atau Pasangan Hidup

Menemukan pasangan Ala Pelestarian Warisan Budaya
Oleh Jhohannes Marbun

Fisik atau arsitektur sebuah objek dalam pelestarian warisan budaya seringkali dianggap sebagai penentu ditetapkannya suatu benda atau objek sebagai cagar budaya atau bukan cagar budaya. Sebenarnya, pandangan tersebut tidaklah selalu benar. Tidak semua cagar budaya ditentukan oleh nilai fisik atau arsitektur dari suatu objek. Nilai penting kesejarahan, kebudayaan, maupun sosial merupakan faktor yang paling menentukan sebuah objek ditetapkan sebagai cagar budaya. Begitu pula dalam kehidupan manusia, terutama dalam menjalin hubungan di antara manusia berlawanan jenis, baik itu disebut hubungan pacaran atau sebagai pasangan hidup.
Tulisan ini bukan dimaksudkan menyamakan manusia dengan benda ataupun objek, tetapi sebagai sebuah penggambaran atau alat bantu dalam menerjemahkan logika dibalik menemukan pasangan dengan pelestarian warisan budaya.
Dalam praktek kehidupan sehari-hari, hubungan kekasih antara seorang pria dengan seorang wanita dapat terjadi apabila keduanya menyetujuinya atau menyepakatinya. Pada umumnya, ketertarikan seorang pria atau sebaliknya seorang wanita terhadap pasangannya ditentukan oleh dua pertimbangan dalam melihat pasangannya yaitu pertimbangan fisik ataupun pertimbangan non fisik. faktanya, pertimbangan fisik seringkali menjadi penentu untuk memutuskan rasa ketertarikan seseorang pada seorang yang lain. Namun demikian, tidak jarang pula bahwa faktor penentunya adalah hal-hal yang bersifat non-fisik seperti harta yang melekat pada seseorang, ketokohan, perilaku dan budi baik, keterikatan atau kesamaan yang saling membutuhkan, atau karena beberapa faktor lainnya.
Namun sangat sayang sekali jikalau seseorang hanya melihat dari fisik semata. Tetapi hal tersebut menjadi wajar, karena sering kali setiap insan manusia ingin memiliki manusia lainnya sebagai pacar ataupun pasangan hidupnya walaupun belum saling mengenal. Alhasil, orang yang menerima pinangan atau ‘ditembak’ membuat jawaban diterima atau tidak berdasarkan apa yang diketahui tentang orang yang ‘menembak’ tersebut. Apabila tidak banyak hal yang diketahui dari sosok orang yang ‘menembak’ atau mengutarakan cintanya, maka orang yang ‘ditembak’ atau orang yang akan menjawab perasaan cinta hanya membuat keputusan dari apa yang dilihat, yaitu fisik. Untuk itu, pastikanlah terlebih dahulu kita berkenalan dan berteman secara baik terlebih dahulu. Jikalau memang ada kecocokan atau harapan yang saling membutuhkan diantara keduanya, maka lanjutkanlah ke dalam hubungan serius.
Dengan adanya perkenalan dan pertemanan, kita bisa saling menginformasikan dan mengkomunikasikan keberadaan diri kita seadanya. informasi dan komunikasi memegang peranan agar sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang bersifat fisik semata. Mustahil, seseorang tertarik dengan yang lain sementara orang tersebut tidak mengetahui jatidiri dari orang lain dimaksud.
Mudah-mudahan, tulisan ini dapat membantu bagi siapapun yang ingin memperoleh pasangan hidup ataupun pacar. Inti dari sebuah hubungan adalah Kecocokan dan bukan Pemaksaan. Jikalau kita merasa bahwa dalam sebuah hubungan pacaran tidak cocok, maka tidak perlu dipaksa hubungan tersebut akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Jikalau kita ditolak, jangan langsung putus asa, barangkali informasi atau komunikasi tentang kita belum dipahami sepenuhnya oleh calon pasangan tersebut. atau jikalau sudah dipahami sepenuhnya-pun, janganlah putus asa, karena hal itu tetaplah sebuah keputusan yang terbaik. Sebab, menjalin sebuah hubungan bukanlah untuk kesenangan sesaat, tetapi untuk memutuskan bahwa kita bisa menjalani kehidupan bersama selamanya dalam keadaan apapun dan dimanapun sampai maut memisahkan dan bukan sampai ketidak-cocokan memisahkan.
Selamat mencari yang cocok dan tepat menurut karakter anda karena hal tersebut sudah disediakan buat kita semua..:-)
(Ditulis saat mengikuti kebaktian di HKBP Yogyakarta, 10 Juni 2012 pukul 08.30 – 10.00 wib)

Dipublikasi di ARTIKEL | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Akta Warisan Kebangsaan Malaysia Tahun 2005 Seksyen 67

Klaim Tortor dan Gordang Sambilan yang dilakukan oleh Malaysia menuai protes dari masyarakat Indonesia. Klaim Tortor dan Gordang Sambilan dari sub etnis Batak Mandailing ini pertama kali diketahui setelah Kantor Berita Nasional Malaysia BERNAMA melansir berita tentang rencana organisasi masyarakat Mandailing Malaysia ingin mendaftarkan kedua warisan budaya tersebut sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat yang ada di Malaysia. Ide tersebut disambut positif oleh pejabat pemerintah Malaysia dengan beberapa catatan-catatan yang harus dilengkapi.
Menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang klaim oleh Malaysia dan Protes yang dilakukan oleh Masyarakat Indonesia. Sebenarnya bagaimana bentuk pengakuan atau pengelolaan warisan budaya menurut Akta Warisan Kebangsaan Malaysia Seksyen (pasal) 67? Di bawah ini akan dituliskan isi dari seksyen 67 sebagai bahan untuk mengkritisi lebih lanjut tentang Klaim Budaya oleh Malaysia sebagaimana selama ini di protes oleh Indonesia.

Undang-Undang Malaysia Tahun 2005 AKTA 645 tentang Warisan Kebangsaan Seksyen 67

BAHAGIAN X
WARISAN KEBANGSAAN
Pengisytiharan Warisan Kebangsaan

Seksyen 67.
(1) Menteri boleh, melalui perintah yang disiarkan dalam Warta, mengisytiharkan mana-mana tapak warisan, objek warisan, warisan kebudayaan di bawah air yang disenaraikan dalam Daftar atau mana-mana orang yang hidup sebagai suatu Warisan Kebangsaan.

(2) Dalam membuat pengisytiharan di bawah subseksyen (1) Menteri boleh menimbangkan—
(a) kepentingan sejarah, hubungan dengan atau perhubungan dengan sejarah Malaysia;
(b) ciri-ciri reka bentuk atau estetik;
(c) pembaharuan atau pencapaian saintifik atau teknikal;
(d) hubungan sosial atau kebudayaan;
(e) potensi untuk mendidik, menjelaskan atau menyediakan penyiasatan saintifik lanjut berhubung dengan warisan kebudayaan Malaysia;
(f) kepentingan dalam mempamerkan kekayaan, kepelbagaian atau integrasi bentuk yang luar biasa;
(g) jarang tidaknya atau keunikan warisan semula jadi, warisan budaya ketara atau tidak ketara atau warisan kebudayaan di bawah air;
(h) gambaran bentuk suatu tapak atau objek sebagai sebahagian daripada kelas atau jenis suatu tapak atau objek; dan
(i) apa-apa perkara lain yang berkaitan dengan penentuan warisan kebudayaan yang penting.

(3) Jika tapak, objek atau warisan kebudayaan di bawah air terletak di atas tanah Negeri, Menteri hendaklah berunding dengan Pihak Berkuasa Negeri sebelum membuat apa-apa pengisytiharan di bawah subseksyen (1).

(4) Jika tapak, objek atau warisan kebudayaan di bawah air terletak di atas tanah beri hakmilik atau dipunyai oleh mana-mana orang selain Kerajaan Persekutuan atau suatu Kerajaan Negeri, pemunya, penjaga atau pemegang amanah tapak itu, objek tidak alih atau warisan kebudayaan di bawah air itu hendaklah diberitahu sekurang-kurangnya tiga puluh hari sebelum tarikh pengisytiharan dicadangkan itu.

(5) Jika pengisytiharan di bawah subseksyen (1) melibatkan suatu warisan kebudayaan tidak ketara dan hak cipta masih wujud dalam apa-apa kerja, keizinan pemunya hak cipta itu hendaklah diperoleh sebelum apa-apa pengisytiharan dibuat.

(6) Jika pengisytiharan di bawah subseksyen (1) melibatkan orang yang hidup, keizinan orang itu hendaklah diperoleh sebelum apa-apa pengisytiharan dibuat.
(7) Suatu salinan perintah hendaklah disampaikan kepada pemunya, penjaga atau pemegang amanah tapak, objek atau warisan kebudayaan di bawah air atau kepada orang yang hidup itu.

(8) Mana-mana orang yang membantah pembuatan pengisytiharan di bawah subseksyen (1) boleh mengemukakan bantahan secara bertulis kepada Menteri dalam masa tiga bulan dari tarikh penyiarannya dan boleh memohon kepada Menteri bagi pembatalan perintah itu.

(9) Menteri boleh, selepas dinasihati oleh Majlis, membatalkan atau enggan membatalkan perintah itu dan keputusan itu adalah muktamad.

diakses 20 Juni 2012 dari sumber : http://www.heritage.gov.my

Dipublikasi di BERITA | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Pelestarian Warisan Budaya Dalam Era Otonomi Daerah

Pelestarian Warisan Budaya Dalam Era Otonomi Daerah Berdasarkan Kajian Perundang-Undangan
Oleh : Jhohannes Marbun

I. Pendahuluan: Kebudayaan dalam Bingkai Otonomi Daerah
Lahirnya Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 32 tahun 2004 sebagai pengganti Undang-Undang Pemerintahan Daerah Nomor 22 tahun 1999 membawa konsekuensi logis terjadinya perubahan sistem pemerintahan yang sebelumnya sentralistik (terpusat) menjadi desantralistik (otonomi). Undang-undang yang sering disebut dengan Undang-Undang Otonomi Daerah ini juga turut mendorong perubahan setiap undang-undang produk orde baru, termasuk Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (selanjutnya disebut UU BCB No.5/1992). Perubahan UU BCB No.5/1992 terjadi karena dua hal yaitu pertama perubahan paradigma pelestarian cagar budaya dan yang kedua adalah dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat . Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Warisan Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar