Pemburu harta karun asal Australia, Michael Hatcher, yang telah merugikan Indonesia triliunan rupiah, ternyata bias leluasa beraksi mengeruk harta yang tertimbun di dasar laut. Sejauh ini Hatcher belum juga dicekal. Arkeolog maritim ini dikenal cukup “sakti”.

PRIA kelahiran York itu sukses mengangkat kapal Geldermasen milik VOC di Karang Heliputan, Tanjung Pinang, tahun 1985-1986. Untuk itu Hatcher mendapatkan 126 emas batangan dan 160 ribu benda keramik dinasti Ming dan Ching. Nilainya tidak kurang dari 15 juta dolar AS saat itu.

Lalu Hetcher berhasil pula mengangkat kapal Tek Sing di Perairan Kepulauan Bangka, Sumatera Selatan, pada tahun 1999 lalu. Nilainya Rp 500 miliar. Dan jika Hatcher berhasil lagi mengangkat harta karun dari laut Subang, Jawa Barat, maka ini akan menjadi rekor selama karirnya. Sebab diperkirakan nilai porselen dinasti Ming yang tenggelam di sana tidak kurang dari 200 juta dolar AS.

Tapi tampaknya Pemerintah RI dinilai belum serius mencegah sang pemburu harta karun ini agar tidak menghancurkan cagar budaya di dasar laut Indonesia tersebut.

“Belum ada pencekalan,” kata Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya Indonesia, Jhohannes Marbun.

Joe, panggilan akrabnya, pun menyayangkan hal itu. Sebab, kata dia, seharusnya pemerintah harus lebih serius lagi menjaga kekayaan situs bawah laut. Karena selain bernilai ekonomi tinggi, situs arkeologi di dasar laut ini memiliki nilai historis yang luar biasa besar.

“Ini cagar budaya. Seharusnya ada komisi khusus yang menjaga situs-situs ini, karena kementerian budaya dan pariwisata sudah tidak mampu lagi,” katanya.

Joe sudah mengikuti sepak terjang Hatcher sejak lama. Tercatat sedikitnya dua kali Hatcher menggondol kekayaan negara triliunan rupiah dari petualangannya di Indonesia.

Dan Indonesia memang menjadi tempat paling favorit bagi Michael Hatcher. Sebab dia menganggap wilayah ini sebagai surga bagi kongkalikong.

“Di sini mudah berkongkalikong. Tidak mungkin Hatcher bisa bergerak leluasa tanpa dukungan pejabat terkait,” ujar Jhohannes Marbun.

Saat berburu harta karun, Hatcher menggunakan dua jenis kapal. Kapal pertama sangat canggih dilengkapi sonar dan alat untuk penyelam yang lengkap. Dengan alat sonar ini, seluruh muka dasar laut Indonesia bisa terdeteksi. Hatcher pun bisa menemukan targetnya dengan mudah.

Kapal kedua berupa tongkang atau kapal barang. Kapal ini digunakan untuk memuat hasil harta karun jarahan Hatcher yang beratnya berton-ton. Yang menarik kapal-kapal milik rekan Hatcher, Kiyoshi Makatsuka, bisa pula masuk ke Indonesia dengan leluasa karena diduga kapal tersebut bukan terdaftar atas nama Hatcher atau Makatsuka. Namun didaftarkan atas nama Suwanda. Orang inilah tangan kanan Hatcher di Indonesia.

“Suwanda lalu berganti nama menjadi Suharta. kapal-kapal milik Hatcher pun bisa masuk ke Indonesia,” katanya.

Kalah di Thailand

Lambannya Pemerintah RI itu membuat Hatcher semakin intens berburu harta karun di negeri ini. Apalagi dia sering gagal di sejumlah negara lain. Saat mengincar harta karun di wilayah Thailand, misalnya. Dia gagal sebab ternyata negeri Gajah Putih itu punya sikap lebih tegas saat Hatcher berburu harta karun di sana.

Dia pun harus menghadapi Angkatan Laut Thailand. Proses intervensi AL Thailand pada Hatcher ini juga didokumentasikan oleh Maritim Explorations, sebuah perusahaan Singapura, yang sejak 1992 mencari harta karun di sekitar Asia Tenggara.

Rupanya Hatcher selalu bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan eksplorasi dalam menjalankan aksinya. Misalnya dalam perburuan harta karun kapal Klang Aow di Teluk Tengah Thailand, ada Michael Hatcher, Divcon International yang menyediakan alat dan tim penyelam, serta Maritim Explorations untuk dokumentasi.

Untuk Thailand, harta karun itu berada 60 mil lepas pantai dengan kedalaman 60 meter di bawah permukaan laut. Tahun ekpedisi harta karun ini tidak disebutkan. Tapi diperkirakan sebelum tahun 2001.

Namun saat Hatcher mendapatkan barang, ternyata ada intervensi dari AL Thailand. Kemudian mereka mengambil kargo harta karun tersebut.

Seperti ditulis dalam maritimexplorations.com dan dikutip detikcom, Kamis (29/4), pihak AL Thailand menegaskan mereka menjarah harta karun di laut teritorial Thailand. Sementara Hatcher dan kawan-kawan bersikeras harta karun itu ada di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

Hatcher akhirnya kalah. Harta karun berupa 8.000 porselen Thailand, beberapa porselen dan senjata China akhirnya diserahkan ke Departemen Seni Thailand.

Direktur Maritim Explorations, Michael Fletcher, mencoba menerbitkan laporan arkeologi dari ekspedisi ini, namun ditolak sejumlah jurnal internasional karena kontroversi hukum dari perburuan harta karun tersebut. Nah jika AL Thailand bisa tegas, bagaimana dengan TNI AL Indonesia?

* det/wis

http://www.dutamasyarakat.com/artikel-29229-beraksi-di-negeri-surga-kongkalikong.html